"Saya prihatin dengan cara teman-teman yang mengatasnamakan fraksi dalam menyikapi rencana pembangunan gedung DPR. Opini yang berkembang untuk mencitrakan Ketua DPR yang juga kader PD tidak berpihak kepada rakyat," keluh Marzuki.
"PDIP jelas menyetujui pembangunan gedung baru tapi harus sederhana. Sederhana ini indikatornya apa, harus sederhana. Sederhana seperti apa, harus konkret," ujar Marzuki dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marzuki lalu mengritik sikap FPAN yang meminta dilakukan pengkajian ulang pembangunan gedung baru DPR. Sementara FPAN tidak menyertakan cara konkret menyangkut hal tersebut.
"FPAN minta gedung baru DPR harus minta persetujuan seluruh rakyat Indonesia. Ini kan tidak realistis. Jelaskan bagaimana caranya. Jadi tanyakan kepada FPAN bagaimana meminta persetujuan rakyat, apakah kita adakan pemilu untuk memilih gedung DPR, supaya konkret kan, jangan sekedar asbun saja," keluh Marzuki.
Marzuki lalu mengkritik ke Fraksi Gerindra. Marzuki menuturkan, Wakil Ketua BURT DPR dari Gerindra sudah menyetujui pembangunan gedung, lalu kenapa Gerindra menolak dan membantah menyetujui?
"Pius sekarang ini kalau bicara gedung dia lari. Akhir ini justru meninggalkan rapat. Artinya ini tidak bertanggung jawab. Tahu tidak sih Gerindra kadernya setuju," protes Marzuki.
Marzuki mengimbau fraksi di DPR untuk tidak sibuk mencari citra positif. "Jangan DPR membangun gedung baru, rakyat suka nggak? Ya jelas nggak suka. Jelaskan DPR ingin menjadi lembaga yang kredibel yang dicintai rakyat. Kita ingin menuju ke arah kebaikan," tuturnya.
Ia mengaku terpaksa mengungkap keluhannya ke publik. Sebab nama baiknya mulai dicemarkan karena terkesan tidak mau membatalkan pembangunan gedung baru.
"Membatalkan gedung baru bukan wewenang Ketua DPR. Jangan menari diatas mayat-mayat," tutupnya.
(van/anw)











































