Menurut Bara, walaupun biaya pembangunan gedung DPR itu sudah ditekan dari Rp 1,7 triliun menjadi Rp 1,1 triliun, namun tetap saja jumlah tersebut masih sangat besar dan terdengar sangat fantastis bagi rakyat banyak. Angka tersebut juga terkesan tidak pantas mengingat kinerja DPR secara keseluruhan yang dinilai tidak memuaskan.
Salah satu yang disoroti Bara adalah desain gedung baru DPR yang tidak mengalami perubahan dari awal. Desain tersebut sangat menyolok dan terkesan 'intimidating' (menakutkan) bagi rakyat banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desain itu, lanjut Bara, juga tidak memenuhi azas kepatutan karena tidak mencerminkan gedung parlemen dari sebuah negara yang pendapatan perkapitanya hanya kurang lebih US$ 3.000Β dan penduduk miskinnya sekitar 14%.
Bara memberikan contoh gedung parlemen negara-negara demokratis yang perekonomiannya kuat, dan pendapatan per kapitanya tinggi, seperti AS, Kanada, Australia, Jepang dan Korea Selatan. Di negara-negara itu, gedung-gedung parlemennya dirancang dengan tidak berlebihan, sesuai dengan kebutuhan.
"Contohnya Kongres AS, walaupun ada gedung utama yang dikenal dengan nama Capitol Hill, yang dibangun 200 tahun yang lalu, ada gedung-gedung tambahan di sekitarnya yang dibangun secara bertahap untuk menampung ruang kerja anggota kongres beserta stafnya. Gedung-gedung tambahan tersebut, yang sekarang totalnya 7 bangunan, bentuknya tidak menyolok dan sesuai dengan kebutuhan," kata Bara.
Bara menambahkan, bisa saja fasilitas-fasilitas di DPR sekarang sudah tidak memadai lagi seiring dengan perkembangan di DPR terutama terkait kebutuhan penambahan staf bagi para anggota dewan.
"Namun seharusnya jika dibuat gedung baru, desainnya tidak membuat jarak dengan rakyat sebagai stakeholders utama, serta bersifat hangat dan tidak terkesan arogan," kata Bara.
"Kalau dibuat gedung baru yang merupakan ekstensi dari gedung yang ada sekarang, dirancang dengan memenuhi azas kepantasan dan dengan biaya yang tidak terlalu besar, mungkin saja publik dapat menerimanya," tutup Bara Hasibuan.
(asy/nrl)











































