"Kami tahu bahwa jika kita menunggu satu hari lagi, Benghazi sebuah kota hampir ukuran Charlotte, bisa mengalami pembantaian yang akan menggema di seluruh wilayah dan menodai nurani dunia itu tidak dalam kepentingan nasional kita. Saya menolak untuk membiarkan hal itu terjadi. Jadi sembilan hari lalu, setelah berkonsultasi dengan kepemimpinan Kongres, saya berwenang memulai aksi militer untuk menghentikan pembunuhan dan menegakkan Resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 1973," jelas Obama dalam konferensi persnya seperti dikutip detikcom dari CNN, Selasa (29/3/2011).
Obama menuturkan, Amerika memahami kritik masyarakat dunia terkait serangan sekutu ke Libya. Namun, ia menjelaskan, operasi militer sekutu ke Libya sudah disepakati oleh PBB dan mendapat restu Liga Arab.
"Memang benar bahwa Amerika tidak dapat menggunakan militer kita dimanapun represi terjadi. Dan mengingat biaya dan resiko dari intervensi, kita harus selalu mengukur kepentingan kita terhadap perlunya tindakan. Tapi itu tidak bisa menjadi argumen untuk tidak pernah bertindak atas nama apa yang benar. Kami mendapat sebuah mandat internasional untuk aksi koalisi yang luas siap untuk bergabung dengan kami," papar Obama.
Obama pun menjanjikan operasi militer di Libya tidak akan berlarut-larut. Ia menyebut operasi militer ke Libya tidak akan menyamai serangan AS ke Irak.
"Berkat pengorbanan luar biasa dari pasukan kita, kami berharap tentang masa depan Irak. Perubahan rezim membutuhkan waktu delapan tahun, ribuan nyawa Amerika dan Irak, dan hampir satu triliun dolar. Itu bukanlah sesuatu yang dapat kita mampu mengulangi di Libya," tegasnya.
(van/mei)











































