PBNU Kecam Serangan Sekutu ke Libya

PBNU Kecam Serangan Sekutu ke Libya

- detikNews
Senin, 28 Mar 2011 19:41 WIB
PBNU Kecam Serangan Sekutu ke Libya
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras aksi serangan militer yang dilakukan oleh pasukan sekutu terhadap Libya. PBNU tidak membenarkan aksi tersebut karena sama saja melakukan internvensi dan tidak menghormati atau menghargai kedaulatan sebuah negara.

"Kita mengecam keras aksi kekerasan seperti itu. Yang dilakukan sekutu itu, sama saja dengan intervensi," tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj saat membacakan hasil keputusan Rapat Pleno PBNU di Kompleks Ponpes Krapyak, Sewon, Bantul, Yogyakarta Senin (28/3/2011).

Aqil mengatakan pihaknya mendesak PBB maupun negara-negara sekutu menghentikan serangan militer terhadap pemerintahan pemimpin Libya, Muamar Khadafi. Oleh karena itu, PBNU juga mendesak kepada PBB untuk bertindak sebagai pengawas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekali lagi, kita mengutuk keras tindakan brutal tersebut. Kita harus menghargai kedaulatan rakyat Libya. Serahkan saja kepada rakyat Libya. Serangan sekutu itu malah menimbulkan kekerasan tanpa henti," kata Aqil.

Menurut dia, kasus serangan sekutu terhadap Libya dan krisis di negara-negara Timur Tengah juga menjadi salah satu pembahasan dalam rapat pleno PBNU di Yogyakarta. Semua peserta menyatakan mengecam keras aksi tersebut.

Tindakan serangan militer melalui udara oleh sekutu terutama Amerika Serikat (AS) bersama negara anggota Liga Arab itu jelas merupakan sebuah intervensi asing terhadap sebuah negara yang berdaulat. Libya saat menjadi sebuah negara yang kaya dan makmur sebagai negara penghasil minyak yang berkualitas.

Tindakan serbuan militer yang dilakukan AS lanjut Aqil, bukan tidak mungkin untuk menguasai sektor perminyakan tersebut. Hal itu seperti yang terjadi di negara Irak dan Afganistan beberapa waktu lalu.

"Kami mendesak pemerintah Indonesia untuk ikut membantu menyelesaikan masalah di Libya maupun di Timur Tengah. Selain itu juga melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kekerasan harus dihentikan agar rakyat jadi korban. Dan yang harus diingat di Libya juga banyak masyarakat Sunni-nya," pungkas dia.

(bgs/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads