Transmigran Timtim Ancam Nginap di Lapangan Renon Lagi
Jumat, 04 Jun 2004 16:05 WIB
Denpasar - Sekitar 688 Kepala Keluarga (KK) eks transmigran Timor-Timur (Timtim)kembali mengancam akan menginap di lapangan Miti Mandala, Renon, Denpasar. Aksi ini dilakukan jika Pemerintah Provinsi (Premprov) Bali menolak tuntutan mereka sebesar Rp.50 juta sebagai dana ganti rugi harta yang ditinggalkan di Timor leste. Koordinator aksi Komang Sakrana Budi mengatakan, warga mengancam akan kembali melakukan aksi menginap di lapangan itu sebagai protes tidak dikabulkannya tuntutan tersebut. Lapangan itu berada tepat di depan Kantor Gubernur Bali."Warga akan kembali menginap jika tuntutan itu tidak direalisasikan," kata Sakrana Budi usai mengikuti pertemuan antara warga, Gubernur Bali dan Komisi A dan Komisi E DPRD Provinsi Bali di Kantor Pemprov Bali, Jl. Basuki Rahmat, Denpasar.Dalam pertemuan tersebut dibahas tuntutan warga atas ganti rugi kekayaan mereka di Timor-Timur yang telah ditinggalkan pasca jajak pendapat 1999. Dari pihak warga hanya diwakili 10 KK. Pihak Premprov Bali hanya menyanggupi akan memberikan uang sebesar Rp 2,5 juta/KK. Namun warga menolak bantuan tersebut.Dijelaskan Komang, warga meminta dana sebesar Rp 50 juta/KK dengan uang muka sebesar Rp. 20 juta dibayar di muka, sisanya dibayar kemudian hari.Gubernur Bali Dewa Beratha mengatakan, pertemuan tersebut tidak mencapai kesepakatan. Pihaknya telah menawarkan bantuan sebesar Rp. 2,5 juta/KK sebagai dana usaha kerja, namun warga meminta lebih besar.Menurut Beratha, sebelum memutuskan dana sebesar Rp 2,5 juta tersebut, pihaknya telah meminta persetujuan dari DPRD Bali. Beratha mengaku sudah berkonsultasi dengan Menteri Tenaga Kerja/ Transmigrasi dan Mendagri namun hasilnya ditolak.Ditanya soal ancaman warga, Beratha mengimbau agar rencana itu dibatalkan."Lebih baik sebagai orang Bali yang berbudaya, cara-cara demikian kurang tepat, apalagi pada situasi pemilu saya mengharapkan mereka pulang," kata dia.Saat ini warga sedang menyiapkan logistik seperti bahan makanan dan mendirikan tenda-tenda untuk persiapan menginap di lapangan itu. Sebelumnya warga pernah menginap ditempat yang sama selama tiga hari.
(dsb/)











































