HTI menilai, serangan Sekutu itu mewakili diktator negara-negara besar yang menyerang negara-negara Islam demi kepentingan minyak.
"Satu rudal Tomahawk harganya US$ 1 juta. Sejak perang dimulai, sudah ratusan rudal ditembakkan. Kalikan saja, berapa itu. Itu tidak gratis. Harus dibayar mahal dengan minyak Libya," kata salah seorang pendemo, Husein di Bundaran HI, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (28/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam aksinya ratusan pendemo membawa spanduk besar bertuliskan huruf arab. Selain itu pendemo juga mengusung berbagai poster yang mengecam serangan ke negeri yang diklaim HTI sebagai negeri muslim.
"Overthraw Qaddafi's Regime, Reject American Army," tulisan poster HTI yang dibawa berdemo.
Aksi massa tersebut akhirnya bubar dengan tertib usai menyuarakan aspirasi selama hampir satu jam. Tidak ada penjagaan berarti dari aparat kepolisian tetapi cukup membuat kemacetan. Sebab, banyaknya massa membuat arus putar balik dari arah Monas ditutup dan dialihkan melalui kolong stasiun Sudirman.
(Ari/nwk)










































