Tuduhan muncul manakala Perancis mengatakan pesawat tempurnya telah memporakporandakan setidaknya 5 pesawat perang dan dua helikopter Libya di dekat kota Misrata.
Β "Malam ini serangan udara terhadap bangsa kami berlanjut dengan kekuatan penuh," ujar juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim, dikutip dari abc.net.au, Minggu (27/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami rasa ini pembunuhan, ini tidak bermoral, ini ilegal, dan ini bukan mandat Dewan Keamanan PBB,"sambung Moussa.
Kepada jaringan Amerika CBS, Menteri Pertahanan AS, Robert Gates menyampaikan pihaknya sulit menemukan bukti korban jiwa akibat serangan pasukan sekutu ke Libya. Hal ini dikarenakan banyak intelijen yang melaporkan pasukan Khadafi mengumpulkan mayat yang menjadi korban serangan dan meletakkannya di tempat-tempat yang telah diserang sekutu. Sehingga seolah-olah serangan sekutu menewaskan banyak orang.
Gates mengimbuhkan hal itu dilakukan Khadafi dengan tujuan agar pasukan sekutu disalahkan atas kematian warga sipil di Libya.
Sementara itu pasukan loyalis Khadafi masih menyerang kalangan oposisi di Misrata dalam beberapa pekan ini. Salah seorang penduduk kepada BBC menyampaikan keyakinannya bahwa kelompok oposisi masih mencoba bertahan di bawah serangan yang terus menerus itu.
"Sepertinya pasukan Khadafi masih memegang kendali dan mereka (oposisi) memiliki persediaan amunisi yang terbatas," ujarnya.
Penduduk itu menambahkan, kelompok oposisi dan masyarakat lainnya sangat panik lantaran persediaan amunisi yang sangat terbatas. Dia tidak tahu berapa lama lagi kota akan bertahan dari serangan yang yang demikian kuat itu.
Oposisi melakukan tekanan di Libya bagian barat setelah mendapatkan kembali kota Ajdabiya dari tangan pasukan pemerintah. Setelah mengamankan Ajdabiya, mereka berupaya untuk bisa mendapatkan kota lainnya, Brega, dari tentara Libya. Pihak oposisi mengklaim mereka telah mendapatkan kota itu, namun kabar ini belum terkonfirmasi.
(vit/nrl)











































