Demikian dikatakan peneliti Walhi DKI Jakarta, Ubaidillah, saat dimintai tanggapan soal kampanye Earth Hour yang akan digelar malam nanti mulai pukul 20.30-21.30 WIB. Kegiatan akan dipusatkan di halaman Gedung Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
"Kalau sekarang sifatnya hanya seremoni saja. Instruksi tidak menjadi gerakan nasional, hanya imbauan," kata Ubaidillah kepada detikcom, Sabtu (26/3/2011).
Di negara lain, aksi ini sudah menjadi gerakan nasional. Mulai dari Australia, Korea Selatan, Inggris, Peru hingga Uni Emirat Arab mengikuti kampanye ini secara massif.
Ajakan kampanye dilakukan oleh perdana menteri masing-masing agar lebih terasa gaungnya. Bahkan sekjen PBB Ban Ki Moon bahkan ikut mendukung aksi ini dengan menyebutnya sebagai langkah perlindungan bagi planet dan kelangsungan hidup manusia.
Bagi Ubaidillah, aksi pemadaman listrik juga harus memiliki target dan rencana yang matang.Sejumlah gedung yang menyedot tenaga listrik paling besar harus terlibat.
"Jangan sampai simbol saja atau seremonial saja. Kalau perlu dibuat aturan, dalam sebulan wajib mematikan, jadi jelas targetnya apa," sambungnya.
Meski begitu, langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat. Diharapkan, target pengurangan emisi di Indonesia bisa tercapai lewat kegiatan ini dan program kampanye lainnya.
"Targetnya 30 persen sampai 2030, semoga bisa tercapai," ucapnya.
(mad/mad)











































