"Bubar sih tidak. Sebelum gagal, bubar, ada fase lemah dulu. Kekuatan akan menjadi lemah karena kekuatan digerogoti dengan munculnya faksi. Friksi itu memunculkan faksi," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (25/3/2011).
Ketika konflik internal terjadi di parpol yang melahirkan faksi, sangat mungkin faksi itu menjelma menjadi partai baru. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap perolehan suara partai yang bersangkutan saat pemilu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kasus PKS, belum jelas apakah konflik sudah melahirkan faksi. Beredar kabar, ada dua faksi yang sudah muncul di PKS yakni Faksi Keadilan dan Faksi Kesejahteraan. Namun keberadaan kedua faksi ini ditampik Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.
"Saya khawatir Pak Yusuf tidak sendiri. Karena itu penting juga bagaimana mengelola elite di dalam partai. Isu-isu yang sudah beredar ini harus ditanggapi dan
direspons dengan baik, tidak bisa ditanggapi enteng," sambung Siti.
Siti berpendapat, isu-isu yang beredar tentunya berat bagi PKS. Sebab dari partai-partai Islam yang ada, PKS-lah yang paling tebal dan kuat menyiratkan akidah Islam dan menyuarakan 'kebersihan'.
"Makanya ini harus dijelaskan benar tidak. Ketika sudah masuk ke ranah hukum, maka sudah bicara tentang bukti dan fakta. Pembuktian tidak cukup dengan argumen, harus bisa juga membeberkan bukti kalau memang isu itu tidak benar," tambah Siti.
Kisruh di tubuh PKS mencuat tatkala Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan yang merupakan cikal bakal PKS, mengadukan sejumlah petinggi PKS ke Badan Kehormatan DPR dan KPK. Dia juga menuding poligami mereka bermasalah. Yusuf juga mengatakan akan membuka kartu kenakalan Sekjen PKS Anis Matta saat remaja dahulu kepada istri pertama Anis, Anaway Irianti Mansyur.
Tak lama setelah membeberkan 'aib' petinggi PKS, Yusuf Supendi mengaku menerima banyak teror dan ancaman melalui SMS. Dia pun mengadu ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Petinggi PKS menyebut tuduhan Yusuf sebagai fitnah dan akan membiarkan Yusuf bicara sepuasnya.
(vit/nrl)











































