Abdullah Puteh Diperiksa KPK
Jumat, 04 Jun 2004 08:49 WIB
Jakarta - Gubernur Aceh Abdullah Puteh kembali diperiksa di Jakarta. Kali ini pemeriksanya adalah Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Dia diperiksa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan helikopter MI2 senilai Rp 12,6 miliar.Abdullah Puteh tiba di kantor KPK, Jl.Veteran, Jakpus, pukul 07.30 WIB, Jumat (4/6/2004). Setengah jam kemudian dia mulai menjalani pemeriksaan. Penguasa Darurat Sipil Daerah (PDSD) ini sengaja datang pagi agar segera diperiksa mengingat hari ini adalah hari Jumat.Pada Rabu (2/6/2004) lalu Abdullah Puteh diperiksa Mabes Polri dalam kasus korupsi pengadaan genset senilai Rp 30 miliar.Wakil Ketua KKP TH Panggabean pada Rabu lalu menyatakan, saat ini kasus helikopter MI2 masih dalam tahap penyelidikan untuk menemukan dua alat bukti. "Alat bukti ini dibutuhkan agar kasus ini dapat ditingkatkan ke penyidikan. Dan hingga ditemukan juga siapa tersangkanya," ungkapnya.Dia mengungkapkan, pihaknya tidak mengalami kesulitan untuk alat bukti terutama meminta keterangan sejumlah pihak. Mereka yang telah diperiksa antara lain rekanan Pemda NAD, ketua dan sejumlah anggota DPRD."Rekanan Pemda NAD yakni PT Putra Pobiagan Mandiri (PPM). Sedangkan sekda dan gubernur NAD belum dimintai keterangan," ucap Panggabean yang tidak mau mengungkapkan hasil pemeriksaan sementara itu.Data yang dikumpulkan detikcom, tahun 2002 Pemda NAD membeli helikopter jenis MI2 buatan pabrik TLC Rostov Mil Rusia melalui PT PPM seharga Rp 12,6 miliar. Pembelian heli itu menggunakan dana APBD itu ternyata tidak melalui persetujuan DPRD NAD.Puteh mengambil kebijakan dengan memotong langsung dari dana subsidi APBD tingkat I untuk tingkat tingkat II yang diambil dari pos anggaran subsisdi dana pendidikan daerah bawahan. Bahkan proses penunjukan rekanan pun tidak melalui tender tapi penunjukan langsung.Selain itu, pembelian MI2 juga terdapat kejanggalan. Dimana selisih harganya jauh berbeda dengan pembelian heli jenis yang sama yang dilakukan oleh TNI AL pada tahun 2002. TNI AL membelinya dengan harga Rp 6,100 miliar. Mengherankan lagi, ketika helikopter itu tiba di NAD tidak dapat dipakai sehingga harus didatangkan lagi teknisi dari Rusia.
(nrl/)











































