Kolom
Presiden Inyong
Kamis, 03 Jun 2004 14:28 WIB
Den Haag - Kenalkan inyong (aku) rakyat Indonesia. Inyong tidak butuh presiden. Lha presiden itu buat apa? Inyong makan ya cari makan dhewe (sendiri) kok.Inyong mau tanya presiden itu gunane (gunanya) apa? Ada presiden dan kaki tangannya (pemerintah) inyong malah repot. Dihitung-hitung malah jadi nambah beban. Coba ya, ini tanah inyong tanahe dhewe, eh malah inyong dipaksa setor duit. Dimintai duit. Untuk bajek (pajak) katanya. Ini rumah inyong rumahe dhewe, inyong dimintai duit juga, dibajeki. Lha, buat apa? Anak inyong mau kawin, inyong juga harus setor duit. Alasannya macam-macam. Kalau menolak malah berabe. Inyong naik sepeda juga sepeda inyong dhewe, tapi inyong dimintai duit. Untuk penning, katanya. Kreatif sekali. Sepertinya inyong yang malah ngurusi dan ngongkosi presiden dan kaki tangane. Mumetlah (pusing). Katanya presiden itu ngurusi rakyat, biar rakyat makmur sejahtera. Tapi mana? Mana itu hasil dari sumber-sumber kekayaan negara yang katanya untuk dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat? Siapa yang makmur? Inyong seumur-umur belum pernah melihat bukti. Sebaliknya malah inyong sebagai rakyat yang terus-menerus ngongkosi mereka, presiden dan kaki tangannya, pemerintah.Lha, buat apa ada mereka coba? Ngakunya pembangunan, ya pembangunan apa? Ini jalan ini, ya hasil rakyat mbangun dhewe, swadaya inyong dan warga semuanya, iuran. Pembangunan selokan, ya inyong dan warga yang mbangun dhewe. Ongkos sekolahan ya ongkos dhewe. Pokoke inyong rakyat kabeh (semua). Inyong jadi mikir, sebenarnya negara ini tidak perlu punya presiden dan kaki tangannya. Tanpa ada mereka, rakyat sebenarnya bisa hidup sendiri kok. Selama ini keberadaan mereka malah bikin pusing. Rakyat dihisap, dibajeki dan dipunguti macam-macam, tapi tidak ada hubungan timbal-balik. Ya, mirip kumpeni. Uang bajek, pungutan-pungutan, dan kekayaan negara mengalir ke kumpeni, dipakai suka-suka kumpeni, tapi rakyat merana. Wakil rakyat juga sami mawon. Banyak yang ngurusi awake dhewe (dirinya sendiri). Orang Belanda kumpeni bilang , "Ikke, ikke... de rest kan stikken (Aku, aku... yang lainnya boleh mampus). Pokoknya aku dulu, lainnya silakan wassalaam.Daripada begini lebih baik kita hapus saja, iya toh? Tidak perlu ada pemerintah. Untuk apa diada-adakan, kalau ongkosnya mahal? Meminta ongkos dari inyong rakyat kabeh, melalui bajek dan pungutan-pungutan, tapi hasil kerjanya untuk siapa juga tidak jelas. Sekarang para calon presiden sibuk mendekati inyong, ngobral janji. Janji akan menyediakan berjuta lapangan kerja, memberantas KKN, mengangkat guru, mengurangi kemiskinan, dan seterusnya. Lha, selama ini pada ngapa? Janji yang dulu belum ditepati, kini ndableg (tanpa rasa malu) sudah mengobral janji lagi. Malah dulu dijanjikan akan disediakan sejuta lapangan kerja setiap tahun, tapi... blugujuk. Nul koma nul. Aja kaya kuwe lah (jangan begitulah).Inyong jadi ingat nasehat pemuka agama, mengutip peringatan Allah Azza wa Jalla (As-Shaaf 2-3), "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan," Tapi ya repotnya para pemuka agama, panutan inyong, kini juga berlomba-lomba ikut mengobral janji. Antara kata dan laku sudah centang perenang. Berkata akan jalan lempeng bersama, sampai di persimpangan malah belok sendiri.Kalau dipikir-pikir, lama-lama rasanya inyong bisa gemblung sendiri.
(es/)











































