Hal itu disampaikan Manager Warung Informasi (Warsi)- aktivis lingkungan yang berpusat di Jambi, Rudi Syaf dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (23/03/2011). โHarimau sebagai makhluk soliter, membutuhkan ruang hidup yang lebih besar, namun kegiatan dan aktivitas manusia yang membuka habitatnya, telah menyebabkan mereka bersentuhan langsung dengan aktivitas manusia,โ kata Rudi.
โKetika benturan terjadi, manusia lebih pintar dan cerdik, maka yang sering menjadi korban adalah harimau, sedangkan manusia yang jadi korban lebih sering karena kelalaian dan berada di habitat mereka,โ sebut Rudi Syaf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
terutama akibat kegiatan investasi dalam skala besar yang bersifat massif di sektor perkebunan, kehutanan dan pertambangan.
Kehadiran investasi ini cenderung mengabaikan keberadaan satwa-satwa mamalia besar (harimau, gajah dan badak) yang membutuhkan ruang hidup cukup luas. Apalagi, lanjut Rudi, perusahaan membuat sistem proteksi untuk melindungi areal perkebunannya. Misalkan saja, seperti membangut parit untuk menghadang gajah atau menggunakan setrum dengan sistem kejut untuk mengusir satwa lainnya.
Akibatnya sasaran satwa ini adalah kebun-kebun masyarakat dan akhirnya terjadi benturan. โPada akhirnya yang menjadi korban adalah satwa dan masyarakat di sekitar hutan yang umumnya miskin. Sedangkan pemilik modal besar. Jauh lebih aman dari โgangguanโ satwa ini.Kita mengimbau pemerintah untuk memberikan ruang hidup bagi satwa dengan tidak lagi membuka kawasan habitat mereka,โ kata Rudi.
(cha/ape)











































