Siapkah Indonesia Go Nuclear?

Siapkah Indonesia Go Nuclear?

- detikNews
Rabu, 23 Mar 2011 20:16 WIB
Wina, Austria - Krisis Nuklir di Jepang sedikit banyak membuat Indonesia keder dalam melanjutkan rencana pembangunan PLTN. Bahkan Italia menunda rencana nuklirnya karena terpengaruh bencana nuklir Jepang.

Sebagai negara yang diliputi daerah rawan gempa, Indonesia memang mirip Jepang. Belum lagi aksi terorisme di Indonesia yang timbul tenggelam yang bisa menjadi ancaman keamanan PLTN.

Menurut Dr. Basuki Pudjianto, salah seorang pakar nuklir Indonesia yang bekerja sebagai safeguard inspector di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Austria, ketakutan akan radiasi nuklir selama ini selalu dipicu oleh ke-ngerian bom nuklir Hirosima dan Nagasaki serta tragedi meledaknya reaktor Chernobyl di Ukraina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketakutan itu muncul, karena sikap men-generalisasikan setiap kecelakaan nuklir dengan acuan kedua kejadian di atas, bukan pada realita krisis atau bahaya nuklir
yang terjadi" kata Basuki kepada detikcom, Wina, Austria, Rabu (23/3/2011).

Menurutnya pemerintah Jepang cukup tanggap dan mampu menanggulangi kebocoran nuklir yang kini terjadi di Fukushima. Bahkan kini warning level telah diturunkan.

Lalu perlukah Indonesia mengembangkan teknologi nuklir untuk energi nasional? Dan mampukah putra-putri Indonesia mengembangkannya dan meminimalisir resikonya? "Mempertimbangkan kebutuhan dan ketersediaan energi kita saat ini dan ke depan, serta pentingnya ada jaminan ketersediaan kebutuhan energi bagi pembangunan ekonomi dan sosial, maka PLTN tetap menjadi pilihan yang tak dapat dihindarkan" imbuhnya.

Basuki menunjukkan bahwa sekarang ini negara-negara berkembang yang sumber daya manusianya rata-rata sama dengan Indonesia saja sudah berani go nuclear. Seperti Meksiko, Armenia, Rumania, India dan China yang saat ini juga terus menambah pembangunan reaktor nuklirnya.

Bahkan Ukraina yang menyimpan masa lalu kelam Chernobyl tetap tidak kapok menggantungkan 50 persen kebutuhan energi nasionalnya dengan nuklir. "Penundaan akan berakibat pada keterlambatan, dan keterlambatan, dalam hal ini, akan membuat kita terpuruk sebagai bangsa. Kita harus memiliki etos kerja, sikap hidup yang berderajat nuklir (nuclear-grade), yang jelas berstandar keselamatan, tanggung jawab dan disiplin sangat tinggi," terang Basuki.

Basuki mengingatkan saat ini negara-negara di dunia mulai berlomba-lomba meninggalkan batubara dan minyak sebagai pasokan energi dan mengajukan nuklir untuk energi. Demand akan PLTN berbanding lurus dengan kenaikan biaya infrastruktur nuklir yang semakin mahal dari waktu ke waktu.

Menurutnya jika Indonesia tidak segera mengoperasikan PLTN sementara ketersediaan energi alternatif semakin menciut, maka yang ada Indonesia akan selamanya bergantung pada negara lain. Seperti diketahui kebutuhan minyak dunia dengan sumber yang ada saat ini diperkirakan hanya akan bertahan hingga 2050.

"Perlu perubahan sikap dasar dalam hidup bangsa kita, seperti yang lama didengungkan 'kita bukan bangsa tempe' atau lembek. Mempunyai nuklir bukan untuk gagah-gagahan. Tapi ini perlu untuk kepercayaan diri masa depan. Kalau nanti Malaysia, Thailand, dan Vietnam punya, kita tinggal irinya saja," ujarnya.

Dampak PLTN di negara-negara itu juga bisa mengenai Indonesia. Indonesia, lanjut Basuki harus memiliki semangat untuk berubah, maju dan menjadi besar untuk bisa mewujudkan suatu kesejahteraan bangsa.

Saat ini menurut situs www.world-nuclear.org, ada 48 negara yang telah dan sedang mengusahakan proyek nuklirnya. Termasuk diantaranya pemerintah Indonesia. Lalu, siapkah Indonesia go nuclear?

(sal/feb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads