"Kalau kecurigaan, saya tidak ada kecurigaan sama siapa-siapa. Di kalangan agama, para kiai semua sahabat saya," kata Japto dalam jumpa pers bersama Tim Pengacara Muslim di kantor pengacara Mahendradatta, Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (23/3/2011).
Β
Japto mengenakan kaos polo shirt berwarna hitam dan putih. Dia tampak berkeringat karena ruang jumpa pers yang sempit sementara wartawan yang hadir cukup banyak. Sejumlah anggota PP berbaju loreng oranye berjaga di luar ruangan. Wartawan diperiksa ketat sebelum menghadiri jumpa pers.
Japto mengaku menjadi target bom buku karena beberapa hal. "Dalam beberapa pembicaraan pejabat, saya menjadi target karena beberapa hal. Ada juga yang mengatakan saya juga keturunan Yahudi. Saya tidak bisa memungkiri karena itu takdir," ujar Japto.
Ia berpendapat, dirinya dijadikan salah satu target itu tidak berdasar alasan yang jelas.
"Kalau saya hanya pimpinan organisasi yang berprinsip sesuai ide tujuan dan masyarakat melalui penjajah dan pemimpinnya muslim dan segala macam suku, mendirikan negara dengan ideologi. Yang jelas Pemuda Pancasila tidak akan lari dengan Pancasila," papar dia.
"Kalau ada yang menilai dan menganggap kerusuhan merupakan ideologi bangsa ini lucu," lanjut dia.
Menurut dia, melindungi setiap bangsa Indonesia apapun sukunya, bangsanya dan profesinya itu dijamin dengan Undang-Undang.
"Kami Pemuda Pancasila kembali ke naskah asli. Bhinneka Tunggal Ika bukan lagu persatuan dan kesatuan dan perbedaaan suku agama profesi dan sebagainya. Sekarang Bhinneka Tunggal Ika adalah persatuan dan kesatuan politik," kata Japto.
Paket buku yang dikirim kepada Japto S Soerjosoemarno di Jl Benda, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa (15/3/2011). Buku yang dikirim berjudul 'Masih Adakah Pancasila'. Buku itu setelah diledakkan dipastikan berisi rangkaian bom seperti yang diperuntukkan bagi Ulil Abshar Abdalla.
(aan/nrl)











































