Kematian Ribuan Ikan di Ancol Dampak Pencemaran Global

Kematian Ribuan Ikan di Ancol Dampak Pencemaran Global

- detikNews
Rabu, 02 Jun 2004 14:38 WIB
Jakarta - Masih ingat tentang peristiwa matinya ribuan ikan di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara, pada awal Mei lalu? Menurut peneliti oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Quraisyin Adnan, peristiwa itu merupakan dampak dari pencemaran global."Semua fenomena ini adalah buatan kita sendiri yang telah melakukan pencemaran secara global. Dan pencemaran itu mengganggu cuaca yang pada akhirnya kembali lagi ke bumi. Dan inilah yang kita rasakan, ikan-ikan pada mati," ujar Adnan.Adnan, yang berbicara dalam diskusi publik tentang lingkungan bertema "Bahaya Red Tide Plankton bagi Ekosistem Laut Teluk Jakarta" di Gedung Juang, Jl. Menteng Raya, Jakarta, Rabu (2/6/2004), kemudian menjelaskan bagaimana pencemaran global bisa mengakibatkan ribuan ikan mati.Pencemaran global telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca, yang selanjutnya menyebabkan adanya penyimpangan pola peredaran udara di daerah tropis. Yakni menurunnya tekanan udara dan meningkatnya suhu global di bumi, termasuk suhu permukaan laut."Akibatnya kita bisa merasakan banyaknya banjir dan hujan yang tidak beraturan. Dan akibat peningkatan suhu permukaan laut ini di perairan kita terjadi gelombang air panas. Yang akhirnya menyebabkan kematian massal pada ikan dan meningkatnya pertumbuhan pitoplanton karena adanya ketersediaan nutrisi yang melimpah," paparnya.Dari hasil penelitian, lanjut Adnan, memang ditemukan telah terjadi harmful alga blum (HAB) atau bertambahnya jumlah algae atau plankton di sepanjang Pantai utara Jakarta. Melimpahnya HAB ini kemudian menimbulkan keracunan dan kematian massal pada ikan. "Hal itu bisa dilihat dari adanya perbedaan warna air laut dari biru hijau menjadi kuning kecoklatan. Ini sangat erat kaitannya bahwa ada problem lingkungan di laut. Memang juga ada kaitan dengan adanya perubahan kondisi cuaca di mana hujan terjadi terus menerus," lanjut Adnan.Namun, menurut Adnan, organisme plankton yang diteliti tidak ada yang bersifat toksit atau racun. "Kita hanya menemuan organisme yang bersifat oceanik yang hanya mengakibatkan penurunan kadar O2 dalam air."Kondisi yang terjadi di Ancol ini sangat mungkin terjadi di wilayah perairan lain. Untuk itu kita perlu melakukan monitoring plankton dan oceanogarfi perairan terutama dengan memperhatikan kondisi warna air. "Dengan adanya monitoring maka instansi berwenang bisa memberikan peringatan dini. Apalagi kondisi kematian ikan ini bisa dimungkinkan terjadi pada waktu yang cukup lama," demikian Quraisyin Adnan. (gtp/)


Berita Terkait