Demikian lapor kantor berita RIA Novosti, Selasa (22/3/2011). Pada hari Senin (21/3), Putin menyatakan, resolusi DK PBB yang diadopsi Kamis lalu, yang memaksakan zona larangan terbang di Libya dan langkah-langkah untuk melindungi warga sipil, adalah "tidak sah dan cacat" dan 'mengingatkan pada panggilan untuk perang salib pada abad pertengahan."
Medvedev dengan cepat menolak komentar itu, suatu peristiwa perselisihan yang langka. "Tidak dalam kondisi apa pun bisa diterima untuk menggunakakan ekspresi yang pada dasarnya mengarah pada benturan peradaban, seperti 'perang salib' dan sebagainya," kata Medvedev.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Medvedev menambahkan, "Rusia tidak menggunakan (kuasa veto) untuk satu alasan: Saya tidak menganggap resolusi ini salah. Selain itu, saya percaya bahwa resolusi ini umumnya mencerminkan pemahaman kita tentang apa yang terjadi di Libya," ungkapnya.
Dalam sidang voting DK PBB di New York pada Kamis (17/3), 10 negara anggota DK PBB menyetujui resolusi tentang Libya. Sementara lima negara: Rusia, China, Brasil, Jerman dan India abstain. Namun Rusia dan China tidak menggunakan hak vetonya.
(nrl/vta)










































