"Kelihatannya DPR ini tetap ngotot dengan agenda pembangunan gedung baru. Dan kami semakin curiga, ada apa di balik kengototan mereka," ujar Ketua Formappi Sebastian Salang, di Kantor Formappi, Jl Matraman Raya 32 B, Jakarta Timur, Selasa (22/3/2011).
Formappi telah meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil perwakilan dari DPR untuk menjelaskan proses pembangunan gedung tersebut. KPK berjanji akan memenuhi permintaan Formappi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misteri-misteri itu, menurut dia, antara lain adalah siapa pembuat grand design, berapa dana yang dibutuhkan, apa filosofinya dan berapa dana yang diperlukan untuk membayar jasa desainernya. Ketua DPR mengatakan, ada Rp 18 miliar dana yang sudah keluar, namun Sekjen DPR mengatakan angka yang berbeda, yakni Rp 14 miliar. Formappi mempertanyakan, ke mana perginya selisih Rp 4 miliar tersebut.
"Berapa kira-kira dana pembangun gedung tersebut? Di tender disebut Rp 1,1 triliun tapi Sekjen bilang Rp 1,3 triliun," imbuh Sebastian.
Dia kembali mempertanyakan apakah Rp 1,1 triliun itu sudah mencakup semua atau hanya pembangunan gedungnya saja. Sebastian menegaskan, pembangunan gedung ini harus jelas. Dia mewanti-wanti jangan sampai rakyat dibohongi lantaran banyak misteri di balik pembangunan gedung ini.
Apa yang akan dilakukan Formappi selanjutnya? "Tentu kami punya skenario berikutnya. Tapi belum bisa saya sampaikan sekarang. Ini akan agak berisiko, tapi memang harus dilakukan," kata Sebastian.
(vit/nrl)











































