"Jangan sampailah terpancing emosi, sekalipun dituduh macam-macam, seperti NII, korupsi, poligami dan sebagainya. DPP dapat menjelaskan semuanya dengan baik. Kalau emosi dijawab emosi, tidak akan menyelesaikan masalah", ujar Tifatul kepada detikcom, Selasa (22/3/2011).
Dia menjelaskan, kejadian tersebut merupakan ujian bagi perjalanan dakwah PKS ke depan untuk tetap konsisten memberlakukan prinsip-prinsip reward dan punishment serta tegas menegakkan aturan oraganisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tifatul juga mengimbau agar DPP PKS menjelaskan kepada publik atas tuduhan-tuduhan tersebut agar tidak menjadi fitnah di tengah-tengah masyarakat.
"Karena disinyalir tuduhan-tuduhan yang disampaikan sudah berkembang menjadi fitnah, tidak semata ingin menegakkan kebenaran," tegasnya.
Tifatul juga menepis kabar adanya perpecahan di internal PKS. Struktur PKS dari pusat sampai daerah tetap solid, menyusul digelarnya Mukernas bulan lalu di Yogyakarta.
"1,5 Juta orang kader PKS semua solid, tidak ada kepemimpinan ganda. Ini perlu dijelaskan, bukan konflik internal, tapi adalah gugatan dari salah seorang yang merasa hukuman yang diberikan atas yang bersangkutan tidak tepat. Jadi hal ini sekaligus merupakan masukan dan introspeksi bagi pembinaan kader PKS ke depan. Para pengurus PKS pusat sangat dituntut kesabaran dan kearifannya menghadapi berbagai masalah", imbau Tifatul.
Sebelumnya diberitakan, Yusuf Supendi tidak hanya melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan Sekjen PKS Anis Matta ke KPK. Yusuf juga membeberkan poligami yang dilakukan 3 petinggi PKS.
"Yang poligaminya bermasalah ada 3, Luthfi Hasan Ishaaq, Tifatul (Tifatul Sembiring) dan Mahfudz," ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, poligami yang dilakukan Luthfi yang saat ini menjabat sebagai Presiden PKS tidak direstui direstui oleh Dewan Syariah. Bahkan Lutfi juga tidak mendapatkan restu dari istri pertamanya. Pimpinan PKS menuding apa yang disampaikan Yusuf sebagai fitnah.
(ndr/nrl)










































