Ini dia 5 alasan yang dituliskan Tim Nuklir KBRI Tokyo seperti dilansir dari situs KBRI Tokyo www2.indonesianembassy.jp, Senin (21/3/2011).
1. Jarak Tokyo-Fukushima sejauh 250-300 km, masih ditetapkan dalam radius yang sangat aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gambaran bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering terpapar sinar radiasi, sebagai contoh saat kita berpergian menggunakan pesawat yang terbang dari New York dan Tokyo akan mengalami paparan radiasi sebesar 200 microsievert per satu kali perjalanan pulang-pergi. Radioaktif yang terpapar di tubuh kita saat ini adalah partikel-partikel kecil yang menempel pada tubuh kita, namun akan segera hilang apabila kita membilasnya dengan air. (dekontaminasi).
2. Ledakan yang terjadi di reaktor Fukushima merupakan ledakan yang disebabkan oleh akumulasi gas Hidrogen di bangunan penyokong reaktor.
Sangat perlu ditekankan di sini bahwa ledakan yang terjadi bukanlah ledakan akibat reaksi fisi nuklir. Ledakan ini adalah ledakan yang disebabkan oleh terakumulasinya gas hidrogen di antara sungkup reaktor dan bangunan beton akibat proses venting (membuka pressure relieve valve, katup penurun tekanan) untuk menurunkan tekanan di reaktor.
Gas Hidrogen di dalam reaktor dihasilkan sebagai akibat dari reaksi oksidasi selongsong bahan bakar yang terbuat dari Zircalloy (Zirconium Alloy) dengan reaksi sebagai berikut :
Zr + 2 H2O β> ZrO2 + 2 H2
Reaksi di atas terjadi seiring dengan naiknya suhu bahan bakar sebagai akibat dari kegagalan sistem pendingin. Semakin tinggi suhu selongsong bahan bakar maka semakin tinggi pula laju reaksinya. Ledakan ini terjadi di luar reaktor, sedangkan reaktornya sendiri tidak mengalami kerusakan. Sempat teramati adanya kenaikan tingkat radiasi sesaat, terutama di sekitar lokasi PLTN.
3. Reaktor sudah tidak beroperasi, sudah tidak ada reaksi fisi nuklir.
Jadi, kecelakaan reaktor ini berbeda dengan kasus Chernobyl ataupun Three Mile Island (TMI), di mana reaksi fisi nuklir masih terjadi di dalam teras reaktor saat kedua kecelakaan itu terjadi. Level daya reaktor TMI-2 saat terjadi kecelakaan adalah ~97%, dan 5-20% pada kasus Chernobyl.
Upaya yang dilakukan ahli-ahli nuklir di Jepang saat ini, merupakan suatu upaya dengan tujuan untuk mencegah peningkatan jumlah bahan bakar yang rusak baik di kolam bahan bakar bekas maupun di dalam teras reaktor akibat sisa panas hasil energi peluruhan. Apabila bahan bakar meleleh, diperlukan biaya yang sangat besar dan memakan waktu yang lama untuk membersihkan reaktornya.
4. Zat radioaktif yang terdeteksi saat ini adalah zat radioaktif yang memiliki waktu paruh yang sangat pendek.
Pendek di sini dalam artian beberapa menit saja. Pelepasan material radioaktif berupa gas yang berdifusi keluar dari reaktor.
Zat radioaktif ini akan segera hilang dari tubuh dengan membilas menggunakan air. Pencegahan dilakukan dengan selalu menggunakan masker dan pakaian yang menutupi seluruh permukaan tubuh untuk orang-orang yang bekerja di sekitar kawasan pembangkit. Untuk yang berada di luar daerah 20 km sekitar PLTN Fukushima, antisipasi dapat dilakukan dengan antisipasi yang sama dengan pencegahan alergi akibat radiasi serbuk bunga di Jepang akhir-akhir ini (gunakan masker dan selalu berkumur).
5. Meski tergolong tua, PLTN Fukushima memiliki tingkat dan sistem pengamanan yang modern.
Reaktor didesain mengikuti filosofi 'Defense-in-Depth'. Desain pembangkit dirancang dengan keamanan berlapis untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk.
(nwk/nrl)











































