Catatan KIPP:
Kampanye Sepi dan Kurang Tertib
Rabu, 02 Jun 2004 01:45 WIB
Jakarta - Meski berlangsung lancar, namun pelaksanaan kampanye calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) hari pertama dinilai kurang tertib. Selain itu, antusiasme masyarakat sangat minim, dibanding kampanye legislatif lalu.Demikian hasil pemantauan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia yang dipublikasikan Selasa (1/6/2004). Menurut Direktur Eksekutif KIPP Indonesia, Ray Rangkuti, secara umum pelaksanaan kampanye hari pertama berlangsung aman. "Tak ada kekerasan, apalagi keributan yang bersifat massif," katanya.Sekalipun aman, namun antusiasme masyarakat terasa sangat minim. Bahkan lebih minim jika dibanding dengan pelaksanaan kampanye legislatif. Di berbagai ruas jalan yang dilalui rombongan karnaval tim kampanye, tak nampak luberan pengunjung. "Jika bukan karena adanya kumpulan sedikit massa di sekitar jalan yang terlarang untuk dilewati, sepertinya tidak terjadi apa-apa," lanjut dia.KIPP Indonesia juga mencatat belum berlangsung penyebaran stiker, spanduk, poster, bendera dan sejenisnya secara meluas di berbagai tempat dan daerah. Hal ini juga terjadi di berbagai daerah seperti Lampung, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat (NTB).Penggunaan atribut militer oleh satuan tugas (satgas) parpol dalamkampanye perdana juga dipersoalkan KIPP. Padahal, SK Komisi Pemilihan Umum (KPU) No. 35 tahun 2004, pasal 31 ayat (1) melarang satgas parpol atau gabungan parpol menggunakan seragam mirip TNI/Polri.KIPP mencatat, pada kampanye perdana setidaknya tampak penggunaan atribut militer oleh satgas Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).Selain itu, rombongan karnaval tim kampanye capres-cawapres Wiranto-Salahuddin Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi melibatkan anak-anak di bawah umur. "Mereka berdiri di atas mobil dengan ragam gaya. Umumnya memakai pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia," demikian Ray Rangkuti.
(ani/)











































