Pengamat terorisme, Noorhuda Ismail menyatakan bom yang dikirim ke sejumlah tokoh dan lembaga, hanya digunakan untuk teror. Bukan membunuh dalam jumlah massal. Ini berbeda dengan bom-bom sebelumnya.
"Mereka benar-benar kesulitan dana sekarang. Yang mereka buat, skalanya kecil. Jadi seperti turun kasta," katanya saat ditemui di rumahnya, Kawasan Tembalang, Semarang, Sabtu (19/3/2011).
Huda menjelaskan, terjadi pergeseran pola serangan teror. Tak lagi simbol-simbol internasional, melainkan tokoh-tokoh yang dianggap menghambat gerakan Islam.
Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian ini mencontohkan, Ulil dianggap musuh karena punya tafsir Liberal atas Islam, Hendardi kerap melaporkan gerakan intoleran, Ahmad Dhani dan Yapto dianggap punya keterkaitan dengan Yahudi, dan lain-lain.
"Ini disebut near enemy (musuh dekat). Kalau dulu, mereka mengarah ke far enemy (musuh jauh), simbol-simbol internasional," jelas penulis buku "Temanku, Teroris?" ini.
Huda menyatakan, aksi "turun kasta" ini bisa jadi merupakan ruang latihan bagi generasi baru. Selanjutnya, mereka bisa melakukan aksi lebih besar. Terutama jika dukungan dana mengucur dan soliditas kelompok terbangun.
"Mereka akan terus eksis dan muncul secara sporadis, sepanjang tatanan yang mereka harapkan belum terwujud," wanti alumnus St. Andrews University Skotlandia ini.
(try/lh)











































