"Saya menjamin tidak akan ditutup, tidak pernah terpikir untuk menutup itu," kata Kelapa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Arie Budiman saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (19/3/2011).
Arie mengakui, anggaran untuk PDS HB Jassin memang mengalami penurunan untuk tahun ini. Namun bukan berarti, tidak ada solusi lain sehingga harus menutup tempat yang kerap menjadi rujukan para sastrawan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah menjadi kewajiban dari Pemprov DKI Jakarta untuk mencari solusi agar PDS HB Jassin tidak ditutup misalnya dengan mengajukan ulang anggaran dan masih banyak cara yang lain," lanjut Arie.
Sebelumnya sejumlah sastrawan memperbincangkan soal kabar penutupan PDS HB Jassin ini di situs microblogging Twitter. Salah satunya Sitok Srengenge menuliskan 'Akibat kurangnya subsidi itu, yang bahkan tak cukup untuk bayar listrik dan pemeliharaan fasilitas, #PDS hampir tak mungkin bertahan'.
Sementara itu pelaku sastra lainnya Eka Kurniawan mengaku sangat prihatin dengan kabar tersebut. Selama ini Eka mengaku sangat mengandalkan PDS HHB Jassin untuk mencari rujukan-rujukan sastra.
PDS HB Jassin didirikan oleh pengarang, penyunting, dan kritikus sastra H.B. Jassin pada tanggal 28 Juni 1976. Saat ini, lebih dari 48 ribu dokumen sastra yang terdapat di PDS HB Jassin. Di tempat itu, tersedia ruang baca yang terbuka untuk publik.
(ken/ndr)











































