"Rentetan kejadian bom ini jelas rangkaian jaringan terorisme. Kebetulan momennya Abu Bakar Ba'asyir sedang menjalani persidangan. Saya menduga pelakunya juga pendukung dan simpatisan Abu Bakar Ba'asyir," kata As'ad saat dihubungi sejumlah wartawan di Jakarta, Jumat (18/3/) tadi malam.
Menurut Wakil Ketua Umum PBNU ini, ideologi yang selama ini diyakini para pelaku terorisme adalah anti-Amerika melalui jaringan Islam internasional melawan Yahudi dan simbol Israel. Sehingga wajar saja sasaran yang dibidik pun orang-orang yang selama ini dianggap sebagai antek Amerika dan Yahudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
As'ad menjelaskan, jika pelaku terorisme saat ini lebih memilih sasaran perorangan yang dianggap antek yahudi dan Israel. Sehingga sasarannya pun menjadi one man one target, karena bisa jadi menjadikan target sasaran orang besar susah dilakukan. Kejadian bom seperti yang pernah terjadi di hotel JW Marriot pun sudah tidak dilakukan lagi.
โTentu kita masih ingat, presiden SBY juga pernah menjadi sasaran aksi teroris. Tapi ini susah dilakukan. Makanya sasarannya dirubah kepada orang yang mudah saja. Bagi mereka yang penting pesanya sampai," jelasnya.
As'ad mengatakan untuk mengatasi aksi terorisme di Indonesia, mau tidak mau pemerintah melalui parlemen harus menjadikan UU anti terorisme lebih menggigit lagi. Mengingat penanganan terorisme membutuhkan upaya luar biasa, maka UU-nya pun harus luar biasa juga.
โBangsa ini bangsa yang gamang. Sisi lain menganut demokrasi, tapi tidak tahu rambu-rambu demokrasi. Yang pasti selama UU anti terorisme tidak menggigit, pasti yang akan terus disalahkan pihak intelijen. Saatnya semua pihak berpikir serius soal ini,โ pungkasnya
(zal/lrn)











































