"Kalau dulu setiap ada bom pasti dikaitkan dengan kroni Soeharto. Sekarang setelah bom Bali, semua bom diartikan dari Islam, semua diarahkan ke sana (Islam). Lama-lama masyarakat akan tahu, kita tunggu saja hasil dari kepolisian," kata Dekan Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bahtiar Effendy.
Ia menyampaikan hal tersebut usai diskusi bertajuk Radical Islam and the New Caliphate, di gedung Habibie Center, Kemang, Jakarta, Jumat (18/3/2011). Diskusi tersebut dihadiri pula oleh beberapa Dubes dari kedutaan besar Iran, Irak, Spanyol, Siprus, Tunisia dan Bosnia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dukung kepolisian yang mengatakan akan menuntaskan kasus bom tanpa mengaitkan ini maupun itu. Masyarakat juga harus percaya dengan polisi," pinta pria berkaca mata ini.
Masalah radikal Islam, Bahtiar mengungkapkan sudah banyak buku yang mengulas radikalisme dan menyinggung soal agama. Namun kesemuanya menitikkan akar masalah dari radikalisme tersebut adalah ekonomi.
"Sudah banyak buku radikalisme dan menyinggung soal agama. Dan semuanya menitikkan ke ekonomi. Masalah kesejahteraan rakyat khususnya," tutup Bahtiar.
(feb/rdf)











































