Hotel di Bali Bersiap Tampung Eksodus Warga Jepang

Hotel di Bali Bersiap Tampung Eksodus Warga Jepang

- detikNews
Jumat, 18 Mar 2011 15:06 WIB
Denpasar - Bencana gempa disusul tsunami serta bahaya radiasi reaktor nuklir bisa menyebabkan eksodus warga Jepang. Hotel di Bali pun bersiap menampung jika eksodus warga negeri Sakura itu terjadi.

"Dengan dasar kemanusiaan, jika warga Jepang eksodus ke luar negeri untuk menghindari bencana radiasi, kita harapkan industri perhotelan bisa membantu saudara kita yang menghadapi bencana," kata Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Ngurah Wijaya kepada wartawan di kantornya, Jl Puputan Raya Renon, Denpasar, Jumat (18/3/2011).

Wijaya menambahkan, bantuan yang akan diberikan adalah menampung eksodus warga Jepang di hotel-hotel dengan memberikan harga tarif khusus. "Bantuannya mungkin dengan memberikan tarif khusus. Besarannya kita serahkan kepada para industri pariwisata," kata Wijaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wijaya menilai industri hotel di Bali tak bisa membebaskan biaya kepada warga Jepang yang mungkin eksodus ke pulau Dewata. Pasalnya, manajemen hotel harus melunasi biaya-biaya operasional. "Kalau gratis tidak bisa, karena industri juga punya biaya yang harus dibayarkan," katanya.Β 

Untuk memperlancar proses itu, BTB juga mengimbau agen perjalanan wisata di Bali dan Jepang serta hotel menjalin kerja sama. "Kalau ada yang minta kamar untuk eksodus, silahkan berkomunikasi antara hotel dan travel agen," kata Wijaya.

Imbauan itu akan diteruskan BTB ke hotel-hotel yang tersebar di Bali. "Kami hanya imbau saja," ujar Wijaya.

Sementara itu, Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus mengatakan sangat mendukung imbauan BTB tersebut.

"Semua akan kita suport. Hal ini sangat perlu mendapatkan perhatian dari hotel-hotel. Gratis atau tidak, akan komunikasi dengan hotel. Kita akan koordinasi bantuan apa yang bisa diberikan kepada warga Jepang," kata Perry.

Perry menambahkan belum terjadi lonjakan kedatangan warga Jepang ke Bali secara signifikan. "Tidak ada kedatangan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir ini," katanya.

(gds/rdf)


Berita Terkait