Jalan panjang menuju ke kediaman Akyong yang terletak di Perumahan Dadap Indah, RT 033 RW 8, Kecamatan Kosambi Timur, Kabupaten Tanggerang. Jarak dari Cengkareng hampir menempuh jarak 20 kilometer.
Jalan kecil yang hanya mampu memuat dua arah kendaraan terasa berkelok-kelok dengan pemandangan industri dan pergudangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ayahnya dulu tinggal di sini lapor ke RT/RW, kalau dia enggak lapor sama sekali," kata ketua RW 08, Acong, saat ditemui wartawan di depan kediaman Akyong, Kamis (17/3).
Terlihat dari depan, rumah tersebut tampat diselimuti debu. Masuk ke dalam, terlihat dua kamar tidur, satu dapur, dan 1 kamar mandi. Kondisi di dalam rumah pun tak kalah jauh dengan yang ada di luar rumah. Berantakan.
Sebuah kamar yang bersebelahan dengan dapur dijadikan Akyong sebagai pabrik pembuat ekstasi. Terlihat bahan baku pembuat ekstasi masih tersimpan beserta satu unit mesin cetak ekstasi. Mesin tersebut mampu mencetak 1000 pil per hari. Wow!
Sang pemuda keturunan tersebut tinggal seorang diri dan hanya ditemani oleh seekor anjing pemburu. "Beda dengan bapaknya, dia ini orangnya tertutup. Enggak pernah keluar rumah," kata Acong.
Warga mengira rumah tersebut tak berpenghuni atau jarang ditempati empunya rumah. Siang-malam warga tidak pernah mengendus adanya praktik pembuatan ekstasi.
"Rumah dibiarkan seperti tidak berpenghuni untuk mengelabuli aktivitas pembuatan ekstasi," kata Kepala Humas BNN Sumirat Dwiyanto di lokasi penggerebekan.
Sementara itu, warga baru menyadari adanya kegiatan pabrik ekstasi di rumah Akyong saat petugas BNN menggerebek kediamannya. Juru racik pil haram itu sempat kabur melalui plafon rumah. Petugas pun mencurigai segelas kopi hangat dan rokok yang masih mengepulkan asap di ruang tamu. Sampai akhirnya Akyong diketahui bersembunyi di atas plafon.
"Penangkapan dibantu warga dengan menjaga sekitar rumah agar Akyong tidak melarikan diri begitu saja," ujar Sumirat.
Sebelumnya, BNN menangkap seorang napi berinisial E yang diketahui menggerakan roda peredaran narkotika dari Rutan Salemba. Meski berada di balik jeruji, E leluasa berkomunikasi dengan dunia luar untuk mengatur distibusi ekstasi. Tangan kanannya tak lain adalah kekasihnya sendiri, seorang janda beranak satu berinisial Y (21).
(ahy/ndr)











































