"Itu menunjukkan rekayasa. Itu orang gila, zalim," ujar Ba'asyir sebelum sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta, Kamis (17/3/2011).
Tuduhan itu, imbuhnya, sama seperti ketika ada peledakan di Hotel JW Marriott Jakarta dua tahun lalu. Menurut Ba'asyir, dirinya dulu juga disebut-sebut terkait dengan peristiwa itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, sidang yang dijalaninya kali ini bukanlah sidang pidana. "Ini persoalan melawan antara pembela Islam dan musuh Islam. Densus adalah teman Amerika," ucap Ba'asyir.
Pada Selasa (15/3) lalu, bom buku dikirimkan pada waktu bersamaan untuk tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kalakhar Badan Narkotika Nasional yang juga bidan Densus 88 Komisaris Jenderal Gories Mere dan Ketua Umum Partai Patriot Japto S Soerjosoemarno.
Buku untuk Ulil dan Gories berjudul 'Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslim'. Sedangkan buku untuk Japto berjudul 'Masih Adakah Pancasila?'
Bom buku untuk Ulil meledak sebelum Gegana datang. 6 Orang terluka dalam peristiwa tersebut. Bahkan salah satu korbannya adalah Kasatreskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan yang harus kehilangan satu tangannya. Sedangkan bom buku untuk Gories dan Japto dapat dijinakkan. Muncul berbagai analisa terkait bom ini, dari motif politik, dilakukan sel tidur jaringan teroris yang selama ini eksis, hingga intelijen hitam. Banyak kalangan pesimistis kasus bom buku ini akan terungkap.
(vit/nrl)











































