"Ayo tiru Amerika Serikat, menyebut kejadian kemarin sebagai aksi vandalisme. Jangan setiap ada bom, kita serta-merta pakai sebutan terorisme," ujar Reza saat berbincang dengan detikcom, Rabu, (16/3/2011).
Menurut Reza, vandalisme lebih di dorong oleh motif pribadi dengan kalkulasi seadanya. Sedangkan teror sudah terorganisasi sehingga lebih sophisticated.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh dia menjelaskan sedikitnya ada 6 fakta yang seharusnya tidak membuat masyarakat sepanik sekarang. Pertama yaitu modusnya adalah bom paket sedangkan dulunya bom bunuh diri. Kedua yaitu bahan peledak sekarang kecil sedangkan yang dulu sangat besar.
"Ketiga yaitu sasaran sekarang adalah individu sedangkan dulu bersifat massal," terang psikolog yang pernah menangani Ryan ini.
Keempat, sasaran sekarang adalah orang lokal sedangkan dulunya warga dunia. Kelima yaitu disclosure identitas langsung diketahui sebelum kejadian walau bisa saja palsu, dulunya disclosure setelah kejadian
"Yang terakhir rakitan bom sekarang sederhana, dulunya rumit," tandas Reza.
(asp/ape)











































