βKarena visi garis keras bergerak dalam bentuk ekstremisme atau terorisme, maka dia menjadi musuh hukum dan negara yang ditangani Densus 88 dan kelompok pembantunya kemudian ikut diserang,β kata Hasyim kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/3/2011).
Menurut mantan Ketua Umum PBNU ini, penanganan terorisme di Indonesia harus menyeluruh. Untuk itu, yang diperlukan adalah pendekatan visi keagamaan, hukum, intelijen dan pengamanan secara berbarengan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βSejak awal saya telah mengingatkan kepada seluruh warga NU dan kaum muslimin Indonesia pada umumnya, agar jangan ikut terpengaruh, apalagi masuk ke kelompok ekstrem agama," katanya.
Pengasuh pondok pesantren Al Hikam Malang dan Depok ini mengatakan, ada dua kelompok ekstrem yang masuk di Indonesia yaitu, ekstrem keras kanan (tatorruf tasyadudi), dan ekstrem lunak/liberal pro barat (tatorruf tasahuli). "Ekstrem keras, sedikit-sedikit bilang, bunuh, serang, kafir dan sebagainya," ujarnya.
Pada sisi lain, katanya, ekstrem sembrono atau liberal yang suka bilang, "Nabi Muhamad tidak maksum (terjaga dari kesalahan ) Al Quran tidak sakral, serta banyak ayat-ayat Al-quran yang expired, sehingga perlu reformasi. "Tuhan tidak perlu dibela, hak asasi melebihi agama dan sebagainya," paparnya.
Liberalisasi agama, lanjut Hasyim, sebenarnya bersatu dengan liberalisasi politik dan ekonomi dalam menggerakkan dan mempengaruhi negara berkembang. "Jadi jangan heran kalau JIL membela Ahmadiyah misalnya karena Ahmadiyah mengubah teks Al-Quran dan JIL tidak keberatan atas nama kebebasan,β jelasnya.
Dikatakannya, dalam satu titik waktu, kedua visi ini akan saling meledakkan. Ektrem keras misalnya dengan cara mengirim 'bom ulil' dan liberal pun akan menyerang dengan wacana 'kebebasan tanpa bentuk' atau mendorong kekuatan kekuasaan melakukan represi.
Baik ekstrem keras maupun ekstrem sembrono, lanjutnya, pada hakekatnya adalah gerakan global bukan intrinsik domestik Indonesia. Namun menggunakan Indonesia sebagai lahan konflik.
"Kalau sekarang sudah meledak seperti sekarang ini, artinya akan berbuntut panjang dan memerlukan kewaspadaan nasional, karena kedua visi itu telah merambah kemana-mana," paparnya.
Penanganannya, tegas Hasyim, harus komprehensif dan cermat karena sifatnya yang global. "Sesungguhnya yang murni Indonesia bukan keras, bukan sembrono, tapi moderat," pungkasnya
(zal/ape)











































