"Jadi harus diingat bahwa 80 persen terungkapnya terorisme bukan dari kecanggihan intelijen tapi karena informasi dari masyarakat," kata Mardigu usai Dialog Kenegaraan bertajuk Informasi Negara vs Informasi Publik Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Pusat dan Negara, di gedung DPD RI, Senayan, Rabu (16/3/2011).
Ia menggambarkan, bagaimana masyarakat bisa mencurigai bila ada orang asing yang masuk ke dalam wilayah mereka. Masyarakat yang mendengar para teroris berlatih menembak atau membom pun langsung memberitahu aparat setempat sehingga kegiatan teroris bisa diungkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perang dengan teroris adalah perang sel, bukan 100 orang lawan 100. Perang sel itu 100 lawan 1 dan itu jelas lebih sulit. Mau cari di mana kalau hanya sedikit," imbuhnya.
Mardigu juga menyayangkan peralatan intelijen Indonesia kurang canggih. Ia mengatakan minimal intelijen harusnya diberi dana Rp 1 triliun agar hal seperti terorisme bisa lebih terdeteksi sebelumnya. Ia membandingkan dengan intelijen milik Amerika, National Security Agency (NSA), yang hanya memiliki 50 personel namun peralatannya super canggih.
"NSA itu orangnya sedikit cuma 50 orang tapi peralatannya super canggih. Apa yang dipikirkan dalam hati saja mungkin bisa kebaca sama mereka," ujarnya sambil berseloroh.
(feb/lrn)











































