Susno Kini Lebih Slow

Susno Kini Lebih Slow

- detikNews
Rabu, 16 Mar 2011 14:45 WIB
Susno Kini Lebih Slow
Jakarta - Dulu, sebelum masuk tahanan dan masih menjabat Kabareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Susno Duadji terlihat 'galak'. Volume suaranya keras, dan dia tampak berapi-api berbicara. Namun kini dia lebih lembut.

"Itu hanya menyampaikannya saja. Kalau dulu memang begitu (teriak-teriak), sekarang slow. Sudah diajari istri dari Solo," ujar Susno usai rapat dengar perndapat dengan Panja Pemberantasan Mafia Pajak dan Perpajakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/3/2011).

Menurut Susno, jika dirinya sekarang tampak lebih kalem, bukan karena ada tekanan untuk tidak galak lagi. Perubahan sikap itu muncul setelah dia meringkuk dalam tahanan selama 9 bulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nggak ada tekanan. Masak bintang 3 kok ditekan, nggak mungkin. Kapolri saja mendukung," imbuhnya.

Perubahan diri Susno juga disampaikan Didi Irawadi Syamsudin dari Fraksi Partai Demokrat saat RDP. "Saya melihat Pak Susno ini sudah banyak berubah, lebih kalem, lebih lembut. Kenapa?" tanya Didi.

Susno menanggapi komentar itu dengan mengatakan, mungkin kesan lembut itu muncul karena sudah masuk 'pesantren' selama 9 bulan. Pesantren yang dimaksud Susno adalah tahanan. Ucapan Susno lagi-lagi membuat anggota DPR tergelak.

"Lagi pula istri saya dari Solo, jadi selalu mengajarkan saya lembut seperti orang Jawa. Waktu saya di 'pesantren', istri saya sering datang memberi pencerahan rohani," kata Susno yang mengenakan pakaian dinas lengkap ini.

Kepada wartawan, Susno menyapaikan dirinya enggan mengomentari kasus bom buku yang menggegerkan Jakarta pada Selasa (15/3) kemarin. "Itu bukan kewenangan saya. Saya tidak tahu. Saya bukan ahli bom. Itu bukan bidang saya," ucap Susno sambil berlalu.

14 Feruari lalu, Susno dituntut jaksa dengan 7 tahun penjara. Tuntutan itu disertai denda Rp 500 juta. Bila tidak sanggup membayar denda, Susno dapat mengganti dengan penjara selama 6 bulan.

Menurut jaksa, Susno dianggap terbukti menerima suap Rp 500 juta dari Sjahril Djohan supaya kasus Arowana tidak mangkrak di Bareskrim. Selain itu, Susno diyakini mengkorup dana pengamanan pilkada Jabar sebanyak Rp 8,1 miliar dari total hibah Rp 27 miliar.

(vit/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads