Sulitnya Mencari Buku 'Mereka Harus Dibunuh' di Kwitang

Sulitnya Mencari Buku 'Mereka Harus Dibunuh' di Kwitang

- detikNews
Rabu, 16 Mar 2011 14:10 WIB
Sulitnya Mencari Buku Mereka Harus Dibunuh di Kwitang
Jakarta - Buku berjudul "Mereka harus dibunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin" bagai primadona yang dicari berbagai kalangan. Namun buku yang disertakan bersama paket bom untuk Ulil Abshar Abdalla ini sulit didapat.

Pengamatan detikcom, Rabu (16/3/2011), buku yang diduga karya Drs. Sulaiman Azhar ini tidak ditemukan di sejumlah toko dan kios yang berada di kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kawasan ini dikenal sebagai pusat buku murah, baik asli maupun bajakan.

Buku 412 halaman yang memuat "Deretan nama dan dosa-dosa tokoh Indonesia yang pantas dibunuh" ini tidak ada di deretan buku yang dijajakan para pedagang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum ada tuh buku itu. Belum masuk di kita, mungkin belum terbit,"
kata pedagang di toko buku Assunah. Toko ini menjual buku-buku yang berkaitan dengan agama Islam, produk herbal serta aneka produk Timur Tengah yang biasa jadi oleh-oleh jamaah haji.

"Memang buku itu kenapa ya?" kata si pedagang balik bertanya.

Setelah dijelaskan bahwa buku tersebut berada di dalam paket bom untuk Ulil Abshar Abdala, sang pedagang terkejut. "Oh buku itu, kita tidak menjual," ujarnya.

Buku yang menggegerkan ini juga tidak dijual di toko buku Kampus Corner. Toko buku ini menjual buku-buku umum, tidak khusus buku agama.

"Itu buku apa ya? Saya belum tahu. Kayaknya belum masuk di sini. Kalau di sini belum ada, biasanya di pedagang Kwitang juga belum masuk," kata pedagang.

Jejak peredaran buku karya pria asal Ciomas, Bogor, itu juga tidak terlacak di Toko Gunung Agung di Kwitang.

Saat dicari melalui komputer, penjaga toko tidak menemukan jejak buku itu. "Kalau dicari lewat komputer tidak ada, berarti belum masuk bukunya," ujar penjaga toko itu.

Selain kepada Ulil, buku 'Mereka Harus Dibunuh' juga dikirimkan kepada Kalakhar BNN Komjen Gories Mere yang dikenal turut membidani Densus 88. Buku itu memiliki cover tebal, namun tidak diketahui apakah isi buku itu sesuai dengan judulnya.

Bersama buku itu dilampirkan surat dari Sulaiman Azhar beralamat di Ciomas, Bogor. Setelah dilacak, nama dan alamat itu fiktif.
(aan/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads