"Dana makin sulit, dan amunisi juga digembosi, maka perang mereka makin kecil, sehingga menarget tokoh yang berseberangan ideologi," kata pengamat terorisme, Mardigu WP, kepada detikcom,Β Rabu (16/3/2011) pagi.
Dengan kondisi dana yang terbatas, menurut Mardigu, membuat kelompok teroris mesti memperkecil target mereka. Dari yang semula biasanya menarget ratusan orang dan menimbulkan rasa takut pada masyarakat, sekarang hanya menarget satu atau dua orang saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mardigu juga menilai, paket berisi bom yang ditujukan kepada orang-orang tersebut tidaklah bertujuan untuk membunuh target. Menurutnya, bom tersebut hanya dimaksudkan untuk melukai dan meneror korban.
"Ini hanya warning saja bukan untuk membunuh. Porsinya itu paling untuk melukai,
kalau beneran pasti korban yang di Utan Kayu ada yang meninggal. Ini sign aja 'lu jangan banyak omong', misalnya," kata Mardigu.
Meski target kian kecil, namun menurut Mardigu, tidak ada pergeseran dari kelompok yang dijadikan target. Mardigu melihat, target mereka tidak didasarkan atas penilaian pribadi.
"Mereka bekerja bukan atas dasar self-judgment. Tapi berdasar handbook, ini well designed. Mereka misalnya tetap menganggap orang asing serta kelompok-kelompok yang berlainan ideologi sebagai musuh," ujar Mardigu.
Pada hari Selasa (15/3/2011) lalu ditemukan tiga paket buku berisi bom di Jakarta. Bom pertama ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla. Bom in sempat meledak di Utan Kayu dan melukai 5 orang. Bom kedua ditujukan kepada Kalakhar BNN Gories Mere, bom ini berhasil diamankan Tim Gegana. Sementara bom ketiga ditujukan kepada Japto S Soerjosoemarno, bom ini berhasil dijinakkan tim Gegana Mabes Polri.
(adi/nrl)











































