"Sekarang kasus ini ditangani oleh ahlinya, Densus 88 Anti Teror. Densus dibantu Polda Metro dan Mabes Polri," ujar Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (16/3/2011).
Menurut Ito, jajarannya hingga kini belum bisa menyimpulkan keterkaitan antara bom yang meledak di Utan Kayu dengan dua bua bom lainnya yang sama-sama dikirim dalam paket buku. "Saat ini polisi masih terus melakukan pengembangan atas temuan tiga paket bom itu," terang Ito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat tidak usah panik, yang penting waspada. Kalau menemukan hal-hal mencurigakan, baik orang maupun benda yang mencurigakan tolong dilaporkan ke polisi," saran Ito.
Tiga paket bom yang disisipkan dalam buku meneror dalam waktu yang hampir bersamaan kepada target berbeda. Pihak kepolisian masih mengkaji kaitan tiga tempat ini mengapa diserang dalam waktu yang bersamaan.
Paket bom pertama dikirim kepada Ulil Abhsar Abdalla ke kantor JIL di kompleks Utan Kayu, Jl Utan Kayu, Jakarta Timur. Bom ini kemudian meledak setelah berusaha dijinakan oleh Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur (Jaktim) Kompol Dodi Rahmawan. Namun bom yang telah disiram air tersebut kemudian meledak dan melukai tangan kiri Dodi.
Bom kedua ditemukan di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur. Paket buku yang serupa dengan yang dikirim ke Utan Kayu tersebut ditujukan untuk Kalakhar BNN Gories Mere. Bom tersebut terendus oleh petugas BNN lalu didisposal (diledakkan) oleh Gegana.
Bom ketiga dikirim ke rumah Ketua Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarno. Bom ketiga inilah satu-satunya bom yang tidak meledak, Gegana lalu membawa bom tersebut.
(her/nrl)











































