"Dengan sangat kaget kita menerima kenyataan ini. Ternyata bangsa ini memang belum sadar menjadi bangsa. Belum bisa menerima kenyataan tentang keragaman dan perbedaan dalam berbangsa," ujarnya kepada wartawan di sela-sela menghadiri haul di Ponpes Al-Muayyad, Solo, Selasa (15/3/2011) malam.
Said menilai akhir-akhir ini ada beberapa kelompok kecil masyarakat yang suka memaksakan kehendak. Mereka tidak bisa menerima pendapat orang lain. Padahal konstitusi di Indonesia, melindungi setiap warga negaranya berpendapat. Demikian pula Islam, sangat terbuka dalam menerima perbedaan.
"Kalau memang tidak suka dengan Ulil ataupun pemikirannya, tidak boleh menyerang jiwanya. Demokrasi dan Islam memberi ruang bagi perbedaan. Jadi tindakan pengirim bom seperti itu adalah biadab dan tidak islami. Dengan alasan apapun, Islam tidak membenarkan cara-cara seperti itu. Tidak ada aturan seperti itu dalam Islam," lanjutnya.
Dia lalu menyontohkan, dalam Islam bahkan hanya sekadar mengeluarkan ancaman di hadapan orang lain saja sudah dilaknat oleh Tuhan. Apalagi juga jika sampai melaksanakan. Dengan demikian maka tindakan meneror dan bahkan hingga mengirimkan bom adalah sama sekali tidak bisa dibenarkan dalam Islam.
Lebih lanjut, Said Aqil mendesak pemerintah segera mengusut tuntas dan mengambil langkah tegas terhadap orang-orang yang berada di balik pengiriman bom tersebut. Alasannya, karena teror yang mengancam keselamatan warga telah semakin menjadi-jadi dengan mengambil personal.
"Ada desain besar dalam aks-aksi mereka. Mereka bertindak secara rapi, sistematis dan memiliki dana. Polisi harus segera mengusut dan menindak tegas para pelakunya. Jika dibiarkan, akan terus begini dan bagkan tindakan mereka akan semakin berbahaya," demikian KH Said Aqil Siradj.
(mbr/ndr)











































