Teror Berikutnya di Arab Saudi Mungkin Tengah Direncanakan

Teror Berikutnya di Arab Saudi Mungkin Tengah Direncanakan

- detikNews
Senin, 31 Mei 2004 11:00 WIB
Jakarta - Badan-badan intelijen mengkhawatirkan kelompok teroris yang berada di balik serangan mematikan di Arab Saudi, tengah merencanakan "serangan spektakuler" berikutnya di negeri itu. Demikian dilaporkan media Inggris, The Times.Sedikitnya 22 orang tewas dalam operasi teroris oleh beberapa pria bersenjata di kota minyak Saudi, Khobar, Sabtu (29/5/2004) lalu. Beberapa warga asing terbunuh setelah penyerang mengiris tenggorokan mereka. Aksi teroris ini berakhir setelah pasukan komando Saudi menyerbu daerah tersebut untuk menyelamatkan lusinan sandera.Instalasi-instalasi penting minyak, ataupun jalur yang menghubungkan Arab Saudi ke Bahrain merupakan satu di antara target-target potensial serangan berikutnya. Demikian diungkapkan sumber-sumber intelijen The Times.Menurut surat kabar Inggris tersebut, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (31/5/2004), persiapan final untuk serangan tersebut tengah dilakukan para pendukung jaringan al Qaeda. Kementerian Dalam Negeri Saudi mencatat korban tewas dari aksi kekerasan di Khobar adalah: delapan warga India, tiga warga Filipina, tiga asal Saudi, dua warga Sri Lanka, seorang warga AS, satu warga Inggris, satu warga Italia, seorang warga Swedia, satu warga asal Afrika Selatan dan seorangn warga Mesir.Sebanyak 25 orang lainnya dari berbagai negara mengalami luka-luka dalam serangan yang dilancarkan ke kantor-kantor beberapa perusahaan minyak. Dan baru berakhir 24 jam setelah pasukan Saudi mengepung kompleks perumahan Oasis, tempat para penyerang menahan sandera.Kementerian menyatakan, tiga pria bersenjata berhasil melarikan diri dari serbuan aparat. Orang keempat, yang diduga pemimpin mereka, tertangkap dan cidera. Kementerian Saudi tidak memberikan detil mengenai pria tersebut. Hanya dikatakan bahwa ia merupakan salah satu militan yang paling diincar kerajaan itu.Serangan ini diklaim dilakukan kelompok al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Ini berdasarkan statemen yang diposting pada sebuah situs Muslim dan tidak bisa diverifikasi keotentikannya. (ita/)


Berita Terkait