Gara-gara Wikileaks, SBY-Obama Batal Teleponan

Gara-gara Wikileaks, SBY-Obama Batal Teleponan

- detikNews
Selasa, 15 Mar 2011 12:21 WIB
Gara-gara Wikileaks, SBY-Obama Batal Teleponan
Jakarta - Rencananya, Presiden SBY dan Presiden AS Barack Obama akan saling bertelepon terkait hubungan bilateral kedua negara. Namun gara-gara media Australia memuat berita dokumen Kedubes AS soal SBY, yang dibocorkan Wikileaks, maka rencana bertelepon itu batal.

Menurut sumber dari The Sydney Morning Herald, rencana SBY dan Obama berteleponan itu sudah disusun sebelumnya. Agenda pembicaraan adalah rencana East Asia Summit yang akan digelar di Indonesia.

"Obama rencananya menelepon Dr Yudhoyono pada Jumat (11 Maret), tapi ketika Wikileaks muncul, hal itu tidak terjadi," ujar sumber itu seperti dilansir SMH.com.au, Selasa (15/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isi dokumen Kedubes AS itu memang menghebohkan. SBY disebut menyalahgunakan kekuasaan dan bahkan terimplikasi korupsi.

Disebutkan, rencana bertelepon itu batal setelah pihak AS berdiskusi dengan pihak Istana. Namun sebenarnya, andai teleponan itu tetap dilangsungkan, Obama akan mengulang ucapan Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel yang menyesalkan munculnya pemberitaan soal kawat diplomatik itu dan tuduhan terhadap SBY.

Jubir SBY, Teuku Faizasyah, mengakui kurangnya kontak kedua pihak namun dia menganggapnya biasa. "Penjadwalan untuk telepon seperti ini selalu cair," kata dia.

Meski demikian, hubungan Indonesia-AS dinilai terpengaruh oleh publikasi The Age dan Sydney Morning Herald. SBY disebutkan menghalangi penyidikan korupsi yang mengarah ke Taufiq Kiemas, memata-matai rival politik, dan menerima dana dari pengusaha Tomy Winata lewat perantara. Itulah antara lain isi pemberitaan media Australia itu.

Bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono disebutkan mengambil keuntungan finansial dari posisinya sekarang. Menlu Marty Natalegawa sudah menyampaikan protes keras terhadap Marciel. Pemerintah menilai pemberitaan itu tidak berdasar.

Pakar politik Burhanudin Muhtadi kepada SMH, menilai SBY terpukul dengan pemberitaan kawat itu. "SBY melihat dirinya sebagai tokoh yang disukai dunia internasional. Dia sangat kecewa ketika Kedubes AS di Indonesia memata-matainya dan melaporkan dirinya secara tidak patut," kata dia.

(fay/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads