Hanya 10% Massa Golkar yang Menolak Wiranto-Solah

Hanya 10% Massa Golkar yang Menolak Wiranto-Solah

- detikNews
Minggu, 30 Mei 2004 15:15 WIB
Solo - Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung memprediksi pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid tidak akan didukung sekitar 10 persen massa Partai Golkar. Karenanya Golkar akan terus mendekati Gus Dur dan berharap tidak menjadi golput, sebab sikap Gus Dur itu akan banyak memiliki dampak politik, terutama dalam pengumpulan dukungan."Dengan majunya Pak Jusuf Kalla akan mengurangi dukungan (bagi Wiranto- Gus Solah) dari Indonesia Timur, secara khusus Sulawesi Selatan. Tapi kalaupun ada deviasi itu tidak terlalu besar, paling hanya sekitar 10 persen saja. Dan kami yakin calon kami tetap akan mampu lolos ke putaran kedua pilpres mendatang."Hal tersebut disampaikan oleh Akbar Tandjung kepada wartawan di sela-sela memberi pembekalan para jurkam untuk pasangan Wiranto-Salahuddin untuk daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Pembekalan diadakan di Rumah Makan Diamond, Solo, Minggu (30/5/2004) siang.Untuk dukungan suara yang lebih banyak, Akbar berharap Gus Dur bersedia memberikan dukungan penuh bagi pasangan Wiranto - Solah yang berasal dari Partai Golkar dan PKB. Untuk mencapai tujuan itu, pihaknya akan terus secara intensif melakukan komunikasi dengan Gus Dur yang hingga saat ini masih bersikukuh tetap akan menadi golput dan akan berada di luar sistem."Kalau Gus Dur tidak memberikan dukungan, tetap netral, golput dan sebagainya tentu itu ada dampaknya. Kami akan mengusahakan meminta beliau mendukung. Seperti awal dulu hanya mengizinkan (Salahuddin sebagai cawapres Partai Golkar), kemudian merestui. Pada saatnya nanti sebelum pelaksanaan pilpres semoga Gus Dur sudah menyatakan mendukung. Itu harapan kami," pinta Akbar.Sementara itu Ketua Tim Pemenangan Pilpres Pasangan Wiranto-Solah, Slamet Effendy Yusuf yakin bahwa Gus Dur saat ini telah mendukung Wiranto - Solah. Dia mencontohkan bahwa pada hari ini Gus Dur telah mengajak Wiranto dan Salahuddin Wahid berkunjung ke Pasuruan dan beberapa tempat di Jawa Timur untuk menemui para kiai."Ada ungkapan Arab yang bisa kita pakai dalam berkait masalah ini. Bahwa bahasa tubuh dan perbuatan itu jauh lebih jelas atau gamblang daripada bahasa ucapan. Ya sudah, itu saja yang kita pegang. Saya sudah terbiasa kok dengan tradisi politik beliau (Gus Dur)," ujar Slamet. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads