Mereka yang kalah berlomba, ditelan gelombang lumpur pekat dan puing-puing yang mengalir deras 800 km/jam itu.
Saudara perempuan Miki Otomo adalah salah satu yang beruntung, meskipun bayangan korban tersapu ombak hitam yang juga menerjang rumah dan mobil di Sendai, selamanya akan bersarang di ingatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kakak saya dapat menjauh namun sejumlah orang tidak bisa berlari cepat," imbuhnya. Mereka yang tidak bisa berlari kencang digulung ombak dahsyat.
Otomo, yang rumahnya di dekat Sendai rusak akibat musibah kembar itu (gempa-tsunami), menyelamatkan diri dengan menumpang mobil. Dia memasukkan kakek dan anjingnya ke dalam mobil, dibayangi-bayangi keputusa-asaan akan selamat. Dia bersyukur keluarganya selamat dari kejaran ombak hitam.
"Saat tsunami akan datang saya menyambar kakek dan anjing kami naik mobil. Gelombang tepat di belakang saya, saya harus menyetir zigzag di antara rintangan dan air untuk mencapai tempat aman," kisah Otomo kepada AFP, Senin (14/3/2011).
Otomo sekarang tinggal di pusat evakuasi di sebuah sekolah bersama 1.000 pengungsi yang selamat dari kepungan kematian. Di daerah ini, dikhawatirkan 10 ribu orang tewas.
Di gymnasium SMP Rokugo, lebih 100 orang meringkuk di dalam selimut di lantai, sementara makanan darurat dibawa masuk. Sedangkan di tempat parkir, sebuah pompa air yang dioperasikan tenaga sukarela menjadi sumber pelepas dahaga. Sejumlah pemilik bisnis lokal datang membawa suplai makanan dan deretan toilet portabel telah berdiri.
Di pintu masuk aula, tampak sepatu berjajar rapi sebagaimana tradisi Jepang lazimnya. Meski musibah dahsyat terjadi, kerapian tetap mencolok. Suasana di pengungsian tenang dan tertib.
Maki Kobari, seorang guru bahasa Inggris, menceritakan, dia dan rekan-rekannya di sekolah -- yang kini berubah menjadi tempat mengungsi -- berlomba untuk menolong sesaat setelah gempuran tsunami.
Mereka menghabiskan malam pertama setelah musibah di kelas-kelas dengan hanya sedikit kue, mencoba mengorganisir bantuan hingga petugas resmi tiba pada hari Minggu pagi.
Namun saat ini tidak terlihat adanya personel berseragam, pengungsian itu dikendalikan oleh tenaga sukarela yang membantu menyalurkan bantuan. Sepanjang jalan, orang-orang mengantre bahan bakar dengan tertib sembari membawa jeriken.
Banyak orang masih terlalu terguncang untuk menceritakan "teror" dan penderitan mereka, wajah mereka menggambarkan ketidakpastian pada masa depan.
"Banyak orang kehilangan seluruh keluarga mereka, mereka kehilangan semuanya," kata Kobari.
Kurang satu mil dari pengungsian itu, sebuah wilayah yang dulunya merupakan pinggiran kota, berubah menjadi kawasan sunyi. Mobil-mobil terlempar di tengah lautan lumpur seperti dadu, mobil lainnya saling tindih, sementara sekitar 5 mobil bersarang di dinding kompleks perumahan.
Atap sebuah bangunan terbang dan tergeletak di tanah yang basah. Kulkas dan sofa juga berhamburan di lumpur. Sekelompok kru penyelamat berbaju oranye mencoba mencari korban selamat. Kendaraan truk tentara dan polisi memasuki zona bencana, meskipun peringatan tsunami sempat memaksa mereka menyelamatkan diri sebanyak dua kali pada hari Minggu.
Yoichi Aizawa (84), seorang petani, menyatakan, dia sempat kembali ke rumahnya untuk mengambil hartanya yang bisa diselamatkan, tapi tidak bisa membayangkan apakah dia bisa pulang ke rumahnya lagi kelak.
"Ketika gempa terjadi, rumah saya oke-oke saja dan saya pikir semuanya baik-baik saja. Tapi ketika gelombang datang, itu sungguh tak terduga. Gelombang adalah hal paling menakutkan," kisahnya.
(nrl/vta)











































