6 Mahasiswa Trisakti dan Jenderal De Kock
Sabtu, 29 Mei 2004 20:30 WIB
Den Haag - Enam mahasiswa Trisakti menemui Jenderal HM de Kock di Paleis Rijswijk (Istana Negara). Tertawa sinis De Kock ngakak, "Kalau elite bangsa kalian tidak begitu, mustahil kami bisa menjajah. Hahaha...,"Heri Heriyanto, Elang Mulya Lesmana, Hafidi Alifidin Royan, Alan Mulyadi, Hendriawan Sie dan Vero, sejak kemarin menangis sedih. "Seharusnya kami saat ini sudah jadi sarjana, bekerja, lalu menikah atau kembali meneruskan sekolah," desis mereka di alam ruh, berurai air mata. Tapi, bukan semata karena alasan itu mereka menangis. Bukan pula karena kematian telah membuat mereka terpisah selama-lamanya dari ayah ibu, kakak adik dan kawan-kawan tercinta. Mereka menangis lebih karena perilaku elite bangsa ini, yang telah nyata-nyata mengeliminir makna kematian mereka. Tinta belum kering mencatat gugurnya mereka pada 12 Mei 1998, yang menjadi klimaks horor mengiringi jatuhnya sebuah rezim. Tapi apa lacur? Para elite yang ketika itu mulutnya berbusa-busa meneriakkan bahwa rezim tadi adalah Firaun laknatullah, kini malah berlomba-lomba menghamba, menyediakan diri jadi abdi. Sang Firaun, yang dulu dicerca sebagai angkara murka, kini menjadi tuan sekutu. Tiada lagi Firaun, tapi sohib. Bahkan tubuh Firaun yang kotor dan tengik, dijilati sampai bersih kinclong, agar tampil bersih suci, layaknya nabi-nabi. "Jika angkara murka dijadikan tiada, berarti semua baik. Jika semua baik, lantas apa makna kematian ini? Negeri ini hancur tanpa pelaku, rakyat menderita tanpa sebab, harta hilang tanpa ada malingnya. Yang merah bisa tiba-tiba jadi hijau lalu menguning. Simsalabim. Sistem nilai apa yang dicontohkan para elite ini? Otak rasanya pindah ke dengkul, hati nurani pindah ke tapak kaki," keluh mereka.Berenam mereka akhirnya menemui Jenderal HM de Kock, pelaksana gouverneur generaal masa VOC yang berhasil melumpuhkan Diponegoro. Mereka ingin tahu apakah watak elite yang khianat, culas, plin-plan, kolaboratif, cecunguk dan gampang jadi antek jika diimingi kekuasaan, memang sudah dari dulu atau baru sekarang saja.Begitu mendengar enam mahasiswa Trisaksti menyampaikan maksud kedatangan, De Kock langsung tertawa terkekeh-kekeh, "Kalau elite bangsa kalian tidak begitu, mustahil kami bisa menjajah, hahaha...," katanya penuh ejekan.De Kock mengungkapkan pengalamannya, bahwa ketika seluruh rakyat sampai elite (bangsawan) melakukan perlawanan di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro, kekuasaan VOC sudah hampir bangkrut dan kalah. Setiap tahun (1825-1830) pasukannya berkurang sepertiga, yang pada masa itu tentu sulit diisi dengan cepat dari Eropa. "Demi mempertahankan kekuasaan, saya kemudian menerapkan politik verdeel en heers (pecah belah dan kuasai). Kepada rakyat saya janjikan kehidupan yang lebih baik, berupa sewa lahan yang murah. Sedangkan para elite kalian saya beri konsesi berupa kedudukan dan limpahan materi. Ternyata para elite kalian banyak yang oportunis, bersedia jadi sekutu yang manis bagi penguasa, lupa perlawanan, hahaha...," ujar De Kock terpingkal-pingkal.Ia menambahkan, akibat politik verdeel en heers, dukungan pada Diponegoro mulai berkurang. Ia lalu menjepit pergerakan Diponegoro dan pengikut setianya dengan mendirikan benteng di mana-mana. Akhirnya Diponegroro menyatakan bersedia berunding di Magelang, pada 28 Maret 1830. "Saya akan menjadi penguasa yang bodoh, jika menyia-nyiakan peluang itu, hahaha. Dia kutangkap, lalu kubuang ke Makassar," Lagi-lagi De Kock terkekeh-kekeh, seolah peristiwanya baru saja terjadi kemarin sore."Zo jongens," kata De Kock di penghujung pertemuan. "Kalau mau lebih jelas melihat watak elite bangsa kalian, kalian harus melihatnya dari sisi penguasa. Jika kekuasaanmu terancam, dekati saja mereka, kasih iming-iming, beri konsesi walau cuma secuil tapi bagi para cecunguk itu sangat besar. Dijamin, nanti mereka akan menjadi pembelamu yang setia. Tanganmu yang kotor dikatakan bersih, baumu yang tengik akan dikatakan wangi. Bahkan namamu bisa jadi tuah. Namaku HM de Kock saja dikatakan sebagai Haji Muhammad de Kock, padahal sebenarnya Hendrik Merkus de Kock. Hahaha...," De Kock terus tertawa, lalu menghilang, diiringi resonansinya yang semakin sayup-sayup. Kesaksian dan pengakuan De Kock semuanya cocok dengan pemandangan sehari-hari saat ini. Tinggallah enam mahasiswa Trisakti tercenung sendiri.
(es/)











































