"Kita berharap kepada pemerintah, terutama aparat kepolisian agar mengusut tuntas kasus ini dan pelakunya dihukum seberat-beratnya," kata Ketua FKWI, Yulianus Rettoblaut alias Mami Yulie kepada wartawan.
Hal itu diungkapkan Mami Yulie dalam acara "Solidaritas untuk Waria & Talk Show Ganti Kelamin sebagai Solusi (?)" di Warung Bang Hood, Jl Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Acara tersebut dihadiri oleh anggota Lembaga bantuan Hukum (LBH) Jakarta Edy Halomoan Gurning dan anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Abdullah Biek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mamie Yulie mengatakan, kekerasan terhadap kaum waria bukan sekali ini terjadi. Ia mengatakan, beberapa kasus terdahulu, tidak pernah terselesaikan oleh aparat kepolisian.
"Tahun 2002, ada penembakan teman waria di Jakarta Barat, juga tidak jelas penyelesaiannya. Kemudian ada kemarin Eli di Taman Lawang dengan keterlibatan Satpol PP juga belum tuntas dan terakhir, penembakan 3 teman kami yang baru saja terjadi. Oleh karenanya kami minta aparat kepolisian serius dalam menangani kasus ini," katanya.
Dia meminta aparat kepolisian tidak memandang kasus waria sebelah mata. "Karena kami juga adalah warga negara yang berhak mendapat perlindungan hukum yang sama," katanya.
Sementara itu, Edy juga berharap agar kasus penembakan terhadap 3 waria Kamis (10/3) dinihari lalu menjadi satu pintu masuk untuk membongkar kasus-kasus kekerasan terhadap waria sebelumnya. Aparat penegak hukum diminta tidak melihat kasus tersebut dari sisi korban yang nota bene merupakan waria.
"Sering kali polisi kalau ada waria meninggal, 'ah..korbannya juga waria'. Terkesan bahwa aparat melihat mereka hanya sebagai waria," kata Edy.
Edy juga berharap agar waria mendapat porsi yang sama dalam hal pelayanan publik. Misalnya saja, dalam hal pembuatan Kartu Identitas Penduduk (KTP).
"Jenis kelamin saat pembuatan KTP terhadap rekan waria ini juga dipaksakan laki-laki," katanya.
(mei/mad)










































