"Kita memang harus antisipasi yang terburuk karena jumlah WNI di sana tidak kecil. Ada sekitar 415-500 WNI di titik rawan bahaya," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa saat jumpa pers di kantornya, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Minggu (13/3/2011).
Marty mengungkapkan, ratusan WNI yang berada di titik rawan itu tersebar di Miyagi, Iwate, Sendai dan Fukoshima. 80 Orang di antaranya berada di wilayah Fukoshima, lokasi reaktor nuklir.
"Sekarang kita lihat, yang penting mereka direloksi lebih dulu," katanya.
Dari 80 orang yang berada di Fukosima, 3 di antaranya berada di radius 20-40 kilometer. "Ada 3 WNI yang akan kita evakuasi bersamaan dengan warga Jepang," katanya.
Marty mengatakan, pihaknya telah mengirim tim ke Jepang untuk membantu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang dalam merelokasi WNI. Dia mengatakan, pihaknya masih mendata para WNI itu untuk mengetahui kondisi terakhir mereka.
"Enam orang tim ini masih terus mendata. Anda lihat sendiri kan bagaimana tingkat kehancurannya begitu luar biasa. Jadi info (dari tim) ini nanti kita himpun dari jam demi jam secara terus-menerus," jelasnya.
Marty melanjutkan, tim sudah menjangkau lokasi WNI yang berada di lokasi terdampak bencana. Termasuk di lokasi yang tidak terdampak bencana seperti Osaka.
"Tapi sekali lagi, jumlah WNI di sana kan cukup besar. Ada yang terdata dan mungkin ada yang tidak terdata, seperti nelayan. Jadi kita harus antisipasi yang terburuk, tapi tentu berdoa dan berharap yang terbaik," katanya.
Jumlah WNI di Jepang tercatat ada 24 ribu jiwa. Dari ribuan WNI, baru 4 orang yang dinyatakan hilang. Empat orang itu yakni Awak Buah Kapal (ABK)kapal penangkap ikan tuna, Kapal Kunimaru.
(mei/mad)











































