'Shalawat Badar Mega-Hasyim' Terdengar di Yogya
Sabtu, 29 Mei 2004 16:17 WIB
Yogyakarta - Shalawat badar biasa terdengar. Tapi shawalat badar Mega-Hamzah? Itu baru pertama terdengar di Yogyakarta. Shawalat model baru itu muncul dalam deklarasi Tim kampanye Mega-Hasyim Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (29/5/2004). Nah, dalam deklarasi yang digelar di Auditorium Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta itu diawali dengan shalawat badar.Shalawat badar dipimpin Wakil Bendahara Tim Kampanye Mega-Hasyim, Amin Fauzan, dan diikuti ratusan kader NU dan simpatisan PDIP DIY. Setelah shalawat badar versi asli, dilantukan "shalawat badar Mega-Hasyim." Nadanya sama dengan shalawat badar biasanya, hanya liriknya yang diubah.Inilah teks "gubahan" itu:Kiai Hasyim dan Mbak Mega, jangan sampai kawan lupa, siang malam kita jaga, tetap pilih Hasyim-Mega, kita tetap pilih Mbak Mega, Kiai Hasyim pendampingnya, pasti jaya Indonesia, adil makmur selamanya.Dalam deklarasi itu karena ada dua unsur yang bergabung yakni nasionalis dan religius, maka Ketua Tim Kampanye, H Djuwarto saat memberikan sambutan juga mengucapkan pekik "Merdeka" dan takbir "Allahu Akbar" yang diikuti oleh semua peserta.Di hadapan anggotanya, Djuwarto mengatakan, pasangan Mega-Hasyim adalahpasangan yang terbaik bangsa ini sehingga diharapkan masyarakat DIY dapatmemilih pasangan itu dengan mantap. "Pasangan antara Bu Mega dengan PakHasyim itu bukan secara tiba-tiba, tetapi pada saat bergabung itu sudahseperti dituntun saja," katanya.Ketua PW NU DIY Prof Dr H Mas'ud Mahfud yang hadir sebagai pribadi, dalam sambutannya mengatakan, dia secara pribadi mengenal dekat dan sering bertemu dengan Mega-Hasyim. "Saya kenal dekat Pak Hasyim dan Bu Mega, bahkan secara pribadi saya juga simpatisan berat keduanya. Saya kemudian juga mengajak teman-teman nahdliyin non struktural untuk memenangkan tim tersebut," katanya.Menembus 60%Djuwarto di sela-sela acara deklarasi menambahkan tim kampanye ini tidak ada unsur NU secara organisatoris yang terlibat, sedangkan semua organisasi di struktural PDIP terlibat semua. Tim ini jugs merupakan perpaduan dua elemen yakni nasionalisme dan religius.Dengan bersatunya dua elemen itu, kata Djuwarto diharapkan mampu menembusbatas-batas kultural di DIY dengan platform nasionalisme-religius."Jadi kita sudah tidak lagi mempersoalkan masalah asal muasal elemen lagi tapi berdasar platform nasionalisme - religius," ujarnya.Ditanya mengenai target perolehan suara, Djuwarto menargetkan minimal memperoleh 60 persen suara. "Kita mau tak mau harus menargetkan suara 60 persen untuk Mega-Hasyim karena harus meraih suara terbanyak di Jawa untuk memberikan subsidi suara di luar Jawa," katanya.Untuk anggaran kampanye Mega- Hasyim ini, kata Djuwarto, berasal dari dana/sumbangan secara gotong royong. Tim ini juga yang bertanggung jawab untuk kampanye Mega-Hasyim di DIY. "Tim ini juga yang resmi didaftarkan ke KPU DIY," imbuh ketua DPD I PDIP DIY itu.
(nrl/)











































