"Jika ada yang mendaki, jangan mendaki lebih dari 500 mdpl. Jangan lebih tinggi lagi, jangan mendekati kawah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Departemen ESDM Surono saat dihubungi detikcom, Jumat (11/3/2011).
Ditambahkan dia, penduduk setempat sudah sangat familiar dengan perilaku gunung. Gunung ini memang statusnya naik turun antara waspada dan siaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengimbuhkan, warga perlu mewaspadai awan panas dan guguran lava pijar, utamanya di lembah sungai yang berhulu di sungai sekitar Gunung Karangetang itu. Selain itu, warga juga perlu waspada apabila terjadi hujan.
"Utamanya sepenjang bantaran Kali Batu Awang, Kahetang, Keting, Kali Batang, Kali Beha Timur, Kali Beha Barat, Kali Pangi, dan Kali Nanitu agar mewaspadai bahaya sekunder ancaman lahar," lanjut pria berkacamata ini.
Pada 11 Maret 2011 pukul 17.30 Wita, status Gunung Karangetang dinaikkan dari waspada ke siaga. Naiknya status ini menyusul meningkatnya aktivitas gunung. Pada 1-9 Maret 2011 terjadi 40 kali gempa vulkanik dalam, 73 kali gempa vulkanik dangkal, 17 kali gempa fase banyak dan 50 kali gempa hembusan. Sedangkan pada 10 Maret kemarin,terjadi 53 kali gempa vulkanik dalam, 55 kali gempa vulkanik dangkal, 9 kali gempa fase banyak dan 29 kali gempa hembusan.
Selain itu, tercatat 5 kali gempa guguran kubah lava. Pada 10 Maret juga terpantau hembusan asap agak tebal dengan tinggi 300 meter. Teramati juga sinar api dengan ketinggian 25-75 meter.
Menurut twitter Palang Merah Indonesia, warga Kabupaten Sitaro di Pulau Siau, Sulut, telah dievakuasi akibat aktivitas salah satu gunung aktif di Indonesia ini.
Gunung Karangetang adalah gunung yang terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Pada 1997, gunung ini pernah meletus dan menewaskan 3 orang. Sedangkan pada 2007, letusan juga pernah terjadi sehingga membuat warga sekitar harus dievakuasi.
Status bahaya gunung level I atau aktif normal artinya berdasarkan pengamatan visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan. Level II atau waspada berarti ada peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.
Di level III atau siaga, terjadi peningkatan pengamatan kawah secara visual, kegempaan dan metode lain yang saling mendukung. Sedangkan level 4 atau awas, letusan awal mulai terjadi berupa abu/ asap. Hal ini akan diikuti letusan utama.
(vit/nrl)











































