Bayi Bermata Satu Meninggal

Tidak Sempat Menangis

Bayi Bermata Satu Meninggal

- detikNews
Jumat, 28 Mei 2004 17:44 WIB
Bayi Bermata Satu Meninggal
Denpasar - Malang nian. Bayi bermata satu dan tidak punya hidung yang lahir di Bali hanya mampu bertahan hidup empat jam. Tanpa sempat sekejap pun menangis, dia sudah kembali kepada Maha Pencipta.Bayi yang belum sempat diberi nama itu meninggal pukul 15.30 WITA di RS Wangaya, Denpasar, Bali, Jumat (28/5/2004). Ibunya Made Julianti (30) bahkan belum sempat melihat putrinya, apalagi menyentuh buah hatinya itu.Sang bayi lahir dengan kelainan pada kedua bola mata dempet di satu kelopak mata, tidak ada lubang hidung, terdapat massa (benda) yang menyerupai bakal hidung dengan satu lubang pada ujungnya.Sang ayah, Gde Adnyana Putra (34) tampak menggendong begitu saja jenazah putrinya. Sang bayi hanya dibalut kain flanel warna biru muda. Wajah sang bayi pun sudah dibalut kain itu. "Saya tidak ada firasat dia akan cepat pergi. Mungkin ini masalah medis. Secara sekala (dunia) sudah saya serahkan ke dokter. Secara niskala (ketuhanan) sudah Tuhan yang menentukan. Mungkin sudah begini keadaannya."Demikian tutur Adnyana dengan wajah sembab dan mata merah. Dengan penuh kasih dan haru dia memeluk bayinya yang sudah tidak bernyawa itu dalam dekapannya. Satpam Konjen Jepang itu tak kuasa menahan isak tangisnya."Anak saya ini tidak sempat menangis sejak lahir. Mungkin itu yang menyebabkan dia jadi begini. Kata dokter, saluran pernafasannya juga tidak ada," tutur Adnyana yang ditemui detikcom di halaman parkir rumah sakit. Sebuah mobil keluarganya sudah menantinya."Ibunya belum sempat melihat dan menyentuh. Tapi saya sudah sampaikan keadaannya seperti apa. Dia sedih sekali. Yang namanya ditinggalkan anak ya sedih. Tapi sudah lah, memang sudah begini. Kita harus siap seperti ini. Sekarang kita harus melanjutkan hidup," kata Adnyana.Menurut dia, putrinya itu akan segera dibawa pulang untuk dikubur. Sedangkan istrinya masih harus dirawat di rumah sakit. Semua keluarga dan sanak saudaranya sudah melihat dan mengetahui kondisi putrinya."Tadi penjaga rumah sakit dan beberapa pengunjung juga sempat melihat anak saya sebelum akhirnya meninggal dunia. Sudah, sudah, sudah, tiang (saya) mau pulang. Tiang tidak bisa bicara lagi," kata Adnyana dengan suara tercekat menahan tangis.Adnyana pun bergegas melangkah ke dalam mobil sambil terus mendekap jasad putrinya. Meski terpukul, dia tampak pasrah dan tabah. (sss/)


Berita Terkait