Omset Daging Lokal Anjlok 50%
Jumat, 28 Mei 2004 15:24 WIB
Bandung - Ketua Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi (Apdasi) Jawa Barat, Dadang Isakandar, mengeluhkan turunnya omset penjualan daging sapi lokal. Penyebabnya, selain disebabkan beredarnya daging sapi impor di pasar tradisional, kondisi tersebut juga diperburuk dengan isu penyakit BSE atau sapi gila yang ada diduga berada di dalam daging impor ilegal.Hal itu diungkapkannya pada wartawan di Bandung, Jumat (28/5/2004). Dia mengungkapkan bahwa penurunan omset sebenarnya sudah terjadi sekitar 2 bulan lalu akibat masuknya daging impor ke pasar-pasar tradisional yang dijual bersama-sama dengan daging sapi lokal."Contohnya daging impor no 1 harganya Rp 28 ribu sedangkan harga daging sapi lokal mencapai Rp 30-35 ribu per kilogramnya," kata Dadang. Dalam dua bulan tersebut, menurutnya, omset penjualan daging lokal yang harus bersaing dengan daging impor yang harganya lebih murah menjadi fluktuatif.Hal ini kemudian diperparah oleh isu penyakit sapi gila yang diduga berada di daging impor ilegal, yang berasal dari negara-negara yang berjangkit penyakit sapi gila. Saat ini, hanya daging sapi dari Australia dan New Zealand yang diperbolehkan masuk Indonesia, termasuk Bandung. Sisanya dilarang sebab dikhawatirkan akan menyebarkan penyakit BSE.Dadang mengeluhkan kondisi pasar daging lokal yang mesti bersaing dengan daging impor dan kini makin dipersulit dengan isu penyakit sapi gila. "Karena isu daging ilegal, kondisi jadi tambah parah," katanya."Menurunnya penjualan omset daging sapi lokal juga dipicu oleh kekhawatiran masyarakat yang berlebihan untuk mengkonsumsi daging sapi," sambung Dadang.Kendati harga daging sapi lokal masih bertahan di kisaran Rp 30-35 ribu per kilogram, omset pedagang makin turun. "Biasanya sehari bisa terjual 800-900 kilogram daging sapi lokal sehari, tapi sekarang hanya bisa terjual 600-700 kilogram saja. Dan setiap harinya fluktuatif," kata Dadang.
(nrl/)











































