Saudara-saudara, sebelum kita masuk pada agenda utama sidang kabinet hari ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan situasi politik akhir-akhir ini dan ini penjelasan saya yang resmi kepada jajaran kabinet Indonesia bersatu kedua termasuk Dewan Pertimbangan Presiden dan semua jajaran yang berada dalam lingkup kabinet.
Dua hal, satu menyangkut isu yang terus santer diangkat di berbagai media massa dan bahkan juga mengisi ruang-ruang publik utamanya di Jakarta dan juga di beberapa kota atau daerah yang lain. Kemudian, setelah reshuffle isu yang berkenaan dengan koalisi yang terus dibicarakan masalah luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, menyangkut isu reshuffle. Ini sudah berminggu-minggu sebenarnya dan arahnya memang menurut saya ada yang kurang logis begitu. Karena sampai pada satu titik Saudara-saudara, seolah-olah saya dipaksa diharuskan didikte untuk segera melaksanakan reshuffle dan kemudian apa yang saya dengarkan mengapa lambat, ini sesungguhnya ganjil karena reshuffle itu bukan tujuan.
Reshuffle itu boleh disebut sarana. Reshuffle dilakukan manakala ada alasan dan urgensi. Pada periode Kabinet Indonesia Bersatu pertama dulu saya melakukan 3 kali reshuffle itu pun ada alasan dan urgency reshuffle.
Tapi mengaharuskan presiden harus reshuffle harus cepat dengan jadwal sendiri itu sesuatu yang kurang logis. Apalagi kalau mengerti sistem presiden kabinet presidensial, semua tahu pengangkatan dan pemberhentian menteri atau kainet adalah prerogatif presiden. Presiden tentu dapat melakukan reshuffle manakala ada alasan, urgensi dan diperlukan agar kabinet tetap efektif atau semakin efektif di dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Saya belum pernah, belum pernah mengatakan bahwa ya bulan depan akan ada reshuffle, minggu ini akan ada reshuffle. Karena arahnya sekarang kenapa tidak segera, apa yang dipikirkan, mengapa lambat dst. Belum pernah. Meskpun saya juga pernah menyampaikan bahwa sangat bisa dilakukan reshuffle manakala sekali lagi evaluasi yang saya lakukan dibantu Wapres terhadap kinerja kabinet yang rujukannya adalah kontrak kinerja dan pakta integritas meniscayakan saya untuk melaksanakan reshuffle.
Tapi sebelum saya mengatakan ya saya akan melakukan reshuffle atau ini penataan ulang keanggotan kabinet Indonesia Bersatu kedua maka tentu tidak bisa setiap jam, setiap acara, tiap talkshow terus menodong agar presiden melaksanakan reshuffle segera.
Saudara-saudara, masih bekaitan dengan reshuffle sekarang banyak beredar di media massa sejumlah nama yang dikatakan ini nama-nama menteri yang akan diganti dengan penjelasan mengapa si a diganti, si b diganti, mengapa si c diganti. Kemudian dimunculkan ini yang layak-layak mengganti. Siapa, yang ini backgroundnya begini yang lain backgroundnya begitu sehingga layak jadi menteri ini menteri itu dst.
Sebagaimana dijelaskan Mensesneg, nama-nama yang beredar yang disebut akan diganti atau akan mengganti tidak berasal dari saya. Saya pun tidak tahu menahu dari mana itu keluar.
Mengapa penting. Di waktu lalu hal ini terjadi, banyak beredar nama, ini calon menteri x, ini calon menteri z, calon menteri y dsb, yang saya tidak tahu. Beliau-beliau yang diramaikan, yang diunggulkan tidak menjadi menteri maka sangat tidak senang, bahkan ada yang mengirim sms pada saya mengapa .. mengapa berbohong, ini itu. Saya hanya menginginkan jangan sampai ada apa-apa karena beredarnya nama-nama itu. Karena memang saya sungguh tidak tahu dan yang jelas nama-nama itu tidak berasal dari saya.
Saya meminta pada masyarakat luas untuk sabar, jernih dan tetap logis terutama bagi mereka yang terus menggoreng isu reshuffle ini dengan persepsinya sendiri-sendiri. Saya akan melakukan reshuffle manakala itu sungguh diperlukan, tidak perlu harus dipaksa-paksa harus minggu ini minggu depan. Percayalah semua itu ada tujuan, ada alasan dan ada aturannya manakala reshuffle harus saya lakukan. Saya juga mengingatkan kabinet ini bukan tempat giliran, tempat ganti berganti. Marilah kita mendidik diri kita masing-masing. Manakala ada anggota kabinet yang karena satu dan lain hal karena situasi bukan karena gilirannya sudah cukup.
Tidak ada sistem pemerintahan yang kabinetnya dibikin semacam tempat giliran ganti berganti. Semua ada alasan manakala bergantian dalam kabinet. Oke, sebelum ada apa pun menyangkut reshuffle atau bahasa terangnya sebelum saya melaksanakan reshuffle saya minta seluruh menteri tidak terpengaruh oleh isu reshuffle, jalankan tugas sebaik-baiknya berkonsetrasilah atas tugas Suudara-saudara semua.
(nrl/vta)











































