TN Batang Gadis Miliki Banyak Spesies Endemik

- detikNews
Jumat, 28 Mei 2004 05:02 WIB
Medan - Setelah ditetapkan menjadi kawasan Batang Gadis ditetapkan menjadi taman nasional, maka langsung dilakukan survey. Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) di Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara tak hanya memiliki keunikan dan kekayaan flora dan fauna langka, tapi juga memiliki spesies endemik (tidak ada di tempat lain).Rilis dari yang diterima detikcom dari Conservation International Indonesia, Jumat (27/3/2004) menyebutkan, taman nasional yang memiliki luas 108.000 hektar ini, memiliki kekayaan hayati yang tinggi.Fakta ini terungkap lewat survei awal yang dilakukan Conservation International (CI) Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan (PusLitBang) Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal selama kurang lebih 6 minggu, dari 2 Februari hingga 20 Maret 2004. "Berdasarkan hasil penelitian flora, dalam plot seluas 200 meter persegi terdapat 222 jenis tumbuhan berpembuluh (vascular plant) atau sekitar 0,9% dari flora yang ada di Indonesia (terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh di Indonesia)," kata Dr. Endang Sukara, deputi ketua LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. Sementara dalam plot seluas 1 hektar, terdapat 184 jenis pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm dengan jumlah pohon sebanyak 583. Survei ini juga berhasil menemukan bunga Padma (Raffesia sp.) jenis baru. Hingga kini, bunga tersebut belum diberi nama ilmiah dan masih diteliti oleh pakar di Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi-LIPI. "Kawasan Taman Nasional Batang Gadis ini ternyata mempunyai kekayaan hayati flora yang tinggi, sehingga harus tetap dijaga kelestariannya. Sebab, masih banyak jenis-jenis tumbuhan yang secara ilmiah belum dikenal serta belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia dan ini perlu dikaji lebih lanjut," imbuh Dr. Kuswata Kartawinata, pakar hutan tropis yang juga adviser CI Indonesia. Sementara tim survei fauna mengidentifikasi berbagai jenis mamalia di daerah TNBG dan sekitarnya pada ketinggian 50-1350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui perangkap kamera, tim ini berhasil merekam gambar harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopuma temminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitis binturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac) dan landak (Hystix brachyura). Hal ini, menandakan fungsi satwa sangat mendukung untuk proses regenerasi dan suksesi hutan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Di sisi lain, tim yang dipimpin Drs. Boeadi, pakar reptil dan amfibi LIPI berhasil menemukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa) -merupakan jenis satwa purba- dan katak bertanduk tiga (Megophyris nasuta) yang sudah langka hanya dapat dijumpai (endemik) di Sumatera.Catatan jenis burung di kawasan ini juga bertambah dari 140 menjadi 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah. Ditemukan juga dua jenis burung yang selama ini dikategorikan sebagai 'kekurangan data' (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan. Dari total jenis burung tersebut 13 jenis masuk kedalam kategori Burung Sebaran Terbatas yang berkontribusi pada terbentuknya Daerah Burung Endemik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB).

(mar/)