Bangunan stadion utama berkapasitas 40 ribu penonton ini terletak di Kampus Universitas Riau (UR) dan saat ini kemajuan penyelesaiannya sudah mencapai 70 persen. Tapi dari 140 tiang penyangga yang telah terpasang, ada 19 tiang di antaranya rubuh.
Rubuhnya 19 tiang ini, memang tidak menelan korban jiwa. Tiang ini diketahui rubuh pada akhir pekan lalu dan sejak itu ditutup-tutupi oleh Pemerintah Provinsi Riau agar tidak menyebar ke media massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dijalankan. Kabar burung yang beredar, beberapa pekerjaan bagian stadion yang menelan biaya Rp 932 miliar itu justru diserahkan kepada perusahaan lainnya.
“Kuat dugaan kontraktor yang melaksanakan pembangunan stadion utama ini tidak menggunakan metode SOP. Kalau kita lihat kondisi tiang tersebut, mestinya penyangga itu diberi tiang skor. Proyek sebesar ini mestinya dalam pengerjaannya harus berdasarkan SOP,” kata Sugeng, Selasa (9/3/2011).
Menurutnya, peyanggah yang jatuh tersebut sebetulnya belum memiliki beban atap. Sehingga sangat mustahil alasan angin kencang dapat merobohkan baja tersebut. Rubuhnya tiang penyangah untuk atap stadion ini mengindikasikan motode pembangunan yang amburadul.
“Ini proyek besar yang seharusnya pembangunannya tidak amburadul. Mestinya sudah ada uji coba dengan berbagai tingkatan kekuatan angin di pekanbaru. Tapi apakah pihak kontraktor sudah melaksanakan uji coba tersebut? Kok karena angin saja baja bisa rubuh,” kata Sugeng.
(cha/lh)











































