Stop Dikotomi Sipil-Militer, Nasionalis-Religius
Kamis, 27 Mei 2004 17:00 WIB
Jakarta - Bangsa Indonesia harus meninggalkan berbagai dikotomi yang ada masyarakat. Dikotomi hanya akan membawa Indonesia pada perpecahan.Demikian ditegaskan Ketua Umum KAHMI, Fuad Bawazier dalam sebuah diskusi terbuka yang digelar PB HMI di Jakarta Media Centre, Jl. Kebon Sirih, Kamis (27/5/2004)."Saya tidak setuju dengan dikotomi, Barat Timur, religius-nasionalis, militer-sipil. Dikotomi ini bisa membawa bangsa ini kepada perpecahan. Tidak ada artinya sumpah pemuda jika ini tetap ada," kata FuadDalam kesempatan itu mantan Menteri Keuangan rezim Soeharto ini juga berbicara soal mental bangsa Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia masih bermental pengemis. Tidak jelas alasan Fuad berpendirian demikian."Bangsa Indonesia tidak akan bisa tegak kepalanya jika mulai dari pemimpin, politisi dan elemen lainnya bermental pengemis. Jika tetap bermental pengemis, kita tidak bisa menjadi bangsa yang merdeka," ungkap Fuad.Selain Fuad, diskusi itu juga menghadirkan Ketua DPP Partai Bintang Reformasi (PBR) Bursyah Zarnubi. Saat berbicara, Bursyah mengatakan, pemimpin Indonesia mendatang harus demokratis. Sayangnya, kata Bursyah, tidak ada jaminan mengenai hal itu."Siapa pun pemimpin nanti, tidak ada jaminan pemerintah akan berjalan demokratis. Karena setiap penguasa mempunyai kepentingan untuk mempertahankan kekuasaanya," tukas Bursyah.
(djo/)











































